PEKANBARU, GORIAU.COM - Sedikitnya 57 perusahaan perkebunan di Riau menandatangani surat pernyataan tidak akan melakukan pembakaran lahan dan menjaga serta ikut serta menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di lokasi mereka. Jika terbukti melakukan pembakaran, mereka juga siap diproses secara hukum.

Demikian bunyi salah satu butir kesapakatan antara 57 perusahaan dengan Pemprov Riau hari ini, Kamis (13/2/2014). Sebelumnya 57 perusahaan ini juga menghadiri langsung rapat koordinasi perusahaan dengan unsur muspida dan Direktorat Jenderal perkebunan RI.

Pertemuan yang dilaksanakan di Ruang Melati Kantor Gubernur Riau, Kamis (14/2/2014), tersebut dihadiri oleh unsur muspida yaitu Penjabat Gubernur Riau, Djohermansyah Djohan, Kapolda Riau, Tjondro Kirono, Kajati Riau,Eddy Rakamto, dan juga Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Zulher, selaku satker terkait.

Semenara itu penandatangan kesepakatan oleh perusahaan perkebunan tentang komitmen mereka untuk mencegah kejadian Karhutla memuat enam point. Diantaranya, pertama mereka tidak akan melakukan pembakaran lahan dalam pembersihan areal (land clearing) dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan dilapangan.

Kedua mereka akan melakukan pengendalian kebakaran lahan, baik yang terjadi pada areal perusahaan maupun di areal masyarakat di sekitar perusahaan, dan bersedia membantu upaya pemadaman kebakaran lahan di seluruh wilayah.

Ketiga mereka akan menyediakan dan melengkapi personil regu pemadam kebakaran lahan beserta sarana dan prasarana pengendalian kebakaran sesuai standar teknis yang ada, keempat mereka akan bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota di Riau dalam upaya pengendalian kebakaran lahan, kelima mereka akan membantu pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan khususnya dalam pengendalian kebakaran lahan, keenam mereka bersedia diproses secara hukum jika patut diduga melakukan pembakaran lahan, sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Rapat dan penantangan kesepakatan merupakan tindaklanjut pertemuan antara Gubernur Riau dengan perwakilan perusahaan seminggu yang lalu, maka Gubernur Riau langsung mengumpulkan seluruh perusahaan yang bergerak di bidang subsektor perkebunan yang ada di Riau.

Pertemuan itu terkait tentang penanggulangan karhutla yang melanda Riau selama ini. Data terbaru dari Satelit NOAA BMKG menyatakan masih ada 139 titik panas yang ada di Riau yaitu Bengkalis 30 titik, Dumai 16 titik, Inhil 15 titik, Inhu 7 titik, Kampar 11 titik, Meranti 6 titik, Kuansing 1 titik, Pekanbaru 1 titik, Pelalawan 23 titik, Rohil 8 titik, Rohul 1 titik dan Siak 19 titik.

Dalam pertemuan tersebut semua pihak sepakat untuk menanggulangi dan mencegah Karhutla yang terjadi dan akan terjadi di Riau. Menurut mereka banyak yang dirugikan dari bencana karhutla tersebut. Baik dari segi Ekonomi, Kesehatan maupun kegiatan seperti Rute penerbangan.

Penjabat Gubernur Riau dalam arahannya mengharapkan kuatnya peran serta perusahaan perkebunan untuk membantu pemerintah dalam menangani Karhutla ini. Menurutnya kebakaran yang terjadi menimbulkan efek yang negative kepada seluruh pihak.

''Untuk itu kita kumpulkan perusahaan dan minta kepada mereka masukan yang positif agar penanganan ini dapat dicegah bersama-sama. Dan tadi kita telah menyepakati beberapa poin yang menjadi tanggung jawab masing-masing pihak,'' ujar Djohermansyah.

Kapolda Riau, Tjondro Kirono mengungkapkan komitmen mereka dalam menjalankan hukum. Menurutnya, Polda Riau selama ini telah melakukan berbagai langkah seperti pembentukan jaringan hingga tingkat desa dalam mengantisipasi kebakaran, membuat Maklumat, hingga koordinasi dengan perusahaan jika terdapat kebakaran di wilayahnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Zulher, menyatakan bahwa pada datangnya musibah kebakaran tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2013 musib kebakaran terjadi pada bulan Juni yaitu pada saaat musim kemarau, maka tahun ini datang pada bulan Februari. Sedangkan pada tahun 2014 cuaca normal namun cenderung ke El Nino lemah atau musim kemarau lebih panjang dari pada musim hujan. Sedangkan kebakaran yang terjadi pada bulan Februari yang masuk pada musim hujan karena adanya angin dingin yang bergerak dari daratan asia sehingga mengurangi intensitas hujan dan itu menyebabkan pada bulan Februari ini kebakaran.

"Namun pada bulan April dan Mei nanti hujan akan kembali terjadi, namun dibawah normal"terang Zulher.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan RI, Gamal Nasir, menyatakan bahwa dia sangat mengapresiasi langkah Pemprov Riau untuk penanganan karhutla.

"Saya akan usulkan kepada provinsi yang lain untuk meniru langkah Riau ini. Berani meminta kepada perusahaan untuk membuat komitmen dalam hal penanganan Karhutla"puji Gamal Nasir. (rls)