PEKANBARU - Perhatian masyarakat tertuju sejak dihelatnya kongres XXIX Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), di Pekanbaru, Provinsi Riau, pada 22 November 2015 kemarin. Ini disebabkan banyaknya permasalahan yang timbul, mulai dari kericuhan, bentrok, pengrusakan, gesekan terhadap kepolisian, hingga perselisihan internal dalam tubuh HMI itu sendiri.

Sebagian sudah dirangkum GoRiauCom, terkait segelumit permasalahan kongres sejak dimulainya pada 22 November 2015 kemarin, hingga puncaknya hari ini, dimana sesuai jadwal, menjadi hari terakhir pelaksanaan kongres dalam memilih ketua umum dan pengurus HMI yang baru, untuk mengisi jabatan pada periode berikutnya.

1. Massa Romli HMI Blokir Jalan dan Rusak Gedung Gelanggang Remaja

Barusaja menginjakkan kaki di Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu (21/11/2015) malam, seratusan massa rombongan liar (Romli) atau penggembira kongres, langsung membuat onar. Berdalih diabaikan panitia, mereka malah memblokir ruas jalan Jenderal Sudirman, depan Gedung Gelanggang Remaja. Bahkan massa sempat membakar tong sampah yang terbuat dari ban.

Ratusan aparat gabungan pun diterjunkan. Mereka dipukul mundur hingga ke dalam kawasan Gelanggang Remaja. Bukannya reda, massa kembali anarkis dengan merusak beberapa fasilitas Gelanggang Remaja. Mereka kesal karena tidak dikoordinir oleh panitia, seperti penginapan dan konsumsi.

2. Tak Bayar Makan, Rusak Mobil Polisi Hingga Diuber Penjual Minuman

Dihari berikutnya, ulah Romli kongres HMI kian menyita perhatian. Ini bermula saat peserta yang menempuh jalur darat dengan bus, ternyata ogah bayar saat makan disalahsatu rumah makan di Kabupaten Inhu, Riau. Walhasil, pemilik usaha ini mendatangi panitia yang berposko di Pekanbaru, untuk meminta ganti rugi dengan nominal belasan juta Rupiah.

Selain itu, massa Romli yang ditempatkan di Purna MTQ ini juga merusak mobil dinas Kasatlantas Polresta Pekanbaru, yang saat kejadian tengah mengantar makan siang secara gratis. Alasan mereka, lantaran nasi bungkus yang diberikan itu jumlahnya masih kurang, sehingga mereka memukul dan menendang mobil petugas.

Parahnya lagi, seorang penjual makanan ringan keliling bernama Dedi yang mangkal di Purna MTQ, juga jadi imbas. Usai beli jajanan, beberapa orang peserta Romli enggan bayar. Tak pelak Dedi naik pitam. Ia pun mengambil parang dan menguber orang-orang tersebut. Singkat kata, para pembeli ini akhirnya merogoh kocek Rp150 ribu, sesuai total jajanan.

3. Mahasiswa UIN Suska Riau Diserang dengan Sumpit

Arogansi massa Romli yang didominasi oleh mahasiswa asal Makassar ini akhirnya mencapai klimaks, saat mereka menyeruduk penginapan panitia, di Hotel Green, Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Minggu (22/11/2015) tengah malam. Percekcokan itu berujung dengan dilarikannya seorang mahasiswa UIN Suska Riau ke RS Eka Hospital, akibat terkena tembakan sumpit.

Beberapa jam sebelum penyerangan itu, sempat pula terjadi kegaduhan di area Gelanggang Remaja, dimana seorang Romli terluka di bagian belakang telinga, akibat dilempari Orang Tak Dikenal (OTK). Kapolresta Pekanbaru dan jajaran pun terpaksa turun ke lokasi malam itu juga, untuk menenangkan ratusan massa ini.

4. Sweeping Besar-besaran, Polisi Temukan Puluhan Sajam dan Senpi Rakitan, 8 Mahasiswa Ditetapkan Jadi Tersangka

Pasca penembakan sumpit, ratusan personil kepolisian Kota Pekanbaru langsung menggelar sweeping, Senin (23/11/2015) siang, diantaranya Gelanggang Remaja, Aula kampus Unri Gobah dan Purna MTQ Pekanbaru. Lokasi ini adalah tempat penginapan sementara ribuan massa penggembira kongres alias Romli.

Hasilnya, polisi mengamankan puluhan senjata tajam dan senjata api rakitan, seperti celurit, keris, badik, ketapel, senjata sumpit dan pelurunya, golok, pedang, samurai, cangkul, kayu balok, senjata api rakitan berbahan kayu, pisau lipat, belati, cat semprot, palu, senjata api mainan, peluru airsoft gun dan lain sebagainya. Bahkan ditemukan pula plastik bekas sabu-sabu.

Selain mengamankan barang-barang itu, kepolisian juga terpaksa membawa delapan orang mahasiswa, diantaranya berisinial HA, JS, AK, DA, MA, Y, ML, AY. Mereka diamankan terkait kepemilikan Sajam dan Senpi rakitan. Hari itu juga, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau langsung menetapkan mereka sebagai tersangka, sesuai Pasal 2 ayat 1, UU darurat No 12 tahun 2001.

5. Pertikaian Massa Romli HMI VS Pemuda Riau

Geram dengan sikap menang sendiri yang ditunjukkan massa penggembira kongres HMI, membuat pemuda Riau terpaksa ambil tindakan. Puncaknya terjadi Senin (23/11/2015) sore, dimana seratusan massa supporter PSPS Pekanbaru, Askar Theking menyerbu ribuan massa HMI asal Makassar yang menduduki Gelanggang Remaja.

Meski kalah jumlah, Askar Theking pantang surut. Walhasil, sempat terjadi aksi saling lempar batu antar dua kubu ini. Bahkan pemuda dari Askar Theking yang geram, sempat membakar spanduk terkait kongres, persis di depan pagar masuk Gelanggang Remaja. Beruntung aksi ini dengan sigap dicegah oleh aparat kepolisian, sehingga tidak menimbulkan korban.

Masih dihari yang sama, tepatnya Senin tengah malam, giliran mahasiswa Unri dan Askar Theking menyeruduk Hotel Green, tempat panitia kongres menginap. Tujuannya untuk mempertanyakan sikap panitia yang dirasa abai dengan peserta kongres, khususnya massa Romli, sehingga banyak menimbulkan permasalahan.

Di depan ratusan mahasiswa Unri dan Askar Theking (mereka menyebut dengan Pemuda Riau,red), ketua panitia lokal didesak untuk memastikan, bahwasanya tidak akan ada lagi keributan, yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. Setelah mendapat kepastian, ratusan massa Pemuda Riau inipun membubarkan diri dengan tertib. ***