SELATPANJANG - Ketua tim perumus kearifan lokal Kepulauan Meranti, Abdullah, mengatakan sudah ada sebanyak 123 item kearifan lokal yang didaftarkan ke Dinas Pendidikan Propinsi Riau. Ini nantinya untuk dijadikan materi dalam kurikulum muatan lokal.

Demikian disampaikan Abdullah, Selasa (3/5/2016). Kata Abdullah, sebanyak 123 item kearifan lokal itu terbagi dalam beberapa substansi. Diantaranya sosial budaya, alat musik, drama dan ukiran, teknologi dan ketrampilan, permainan tradisional, kuliner, busana, dan upacara adat.

Dijelaskan Abdullah, yang terbagi ke dalam bidang tari meliputi Tari Ayak Sagu, Joged, Tari Persembahan Makan Sirih, dan Joged Dangkung. Kemudian, bidang alat musik meliputi, Gambus, Marwas, Nafiri, Kompang, Ketawak, Nobat dan Bebano.

Bidang drama dan bidang ukiran meliputi seni kriya kapal sagu. Lalu upacara adat meliputi buang ancak, menetau tanah, ghatib zaman, yasin 44, mandi safar di Tasik Nambus, nujuh bulan, menempah bidan, dan nyuci lantai.

Bidang busana daerah meliputi cekak musang, teluk belanga, gunting cina, baju labuh, baju kurung, dan senandung menidurkan anak (dodoi budak).

Dilanjutkan Abdullah, substansi permainan tradisional dan olahraga meliputi, permainan gasing, sepak takraw, main congkak, layang,layang, kaki anggau, pecah piring, tam-tam buku, cup benteng, galah panjang, patok lele, bang senebu, senangkop, lari atas tual sagu, menggolek tual sagu, lomba menongkah, lomba jung, pacu sampan, lampu colok tujuh likou, dan nenek kebayan.

Kata Abdullah lagi, substansi teknologi dan keterampilan terbagi dalam bidang anyaman yang meliputi, menganyam tikar pandan dan keranjang bambu. Bidang tenunan meliputi tenunan motif sagu, kerajinan batik Meranti inspirasiku, dan kerajinan sulam benang timbul.

Substansi kuliner dalam bidang makanan meliputi semua makanan yang terbuat dari sagu seperti, mi sagu, lempeng sagu, ongol-ongol, gobak sagu, sagu lemak, sagu rendang, brownies sagu, bedegup, dan minuman khas diantaranya sirup mangrove, cendol sagu, dan laksamana mengamuk.

Terakhir, substansi perkebunan dan lahan meliputi mengelola kayu hutan dengan cara membalau yakni mengikis kulit kayu supaya kayu tersebut mati tanpa merusak yang lainnya agar terjaga kelestariannya.

"Kurikulum ini dimaksudkan untuk memperkenalkan peserta didik kepada lingkungannya sendiri, ikut melestarikan budaya daerahnya termasuk kerajinan, keterampilan yang menghasilkan nilai ekonomi di daerahnya," kata Abdullah. ***