PEKANBARU – Pengamat ekonomi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau, Gatot Wijayanto, menilai viralnya aura farming dalam Pacu Jalur bukan sekadar kebetulan budaya yang kebetulan naik daun di media sosial. Bagi Gatot, ini adalah “titik balik” ekonomi kebudayaan Riau, sebuah peluang yang jarang datang dua kali, namun juga sangat mudah hilang jika tak dikelola secara sistemik.

“Selama puluhan tahun Pacu Jalur menjadi kebanggaan lokal, tetapi gaungnya masih belum maksimal. Sekarang, ketika tarian Tukang Tari menembus algoritma global, pertanyaannya bukan lagi bangga atau tidak, tetapi, apakah kita siap menyambut arus perhatian ini dengan struktur ekonomi yang memadai?” kata Gatot saat dihubungi melalui WhatsApp pribadinya, Sabtu (05/07/2025).

Menurutnya, tantangan utama ada pada infrastruktur dan promosi, dua hal yang saling berkaitan erat. Gatot menyebut, hingga saat ini, akses menuju Teluk Kuantan yang merupakan lokasi utama Pacu Jalur belum terhubung dengan jalur transportasi publik yang nyaman dan efisien. Jalan lintas masih sempit dan rawan macet saat puncak kegiatan. Belum lagi minimnya pilihan penginapan berbasis standar wisatawan nasional maupun mancanegara.

“Kalau wisatawan dari Jakarta atau luar negeri ingin ke Pacu Jalur, kita harus jujur: fasilitasnya belum menunjang. Ini membuat antusiasme yang tercipta dari dunia maya bisa tereduksi oleh pengalaman fisik yang tidak menyenangkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gatot menyarankan pemerintah daerah dan pusat segera menyusun rencana induk infrastruktur pariwisata berbasis budaya untuk Kuantan Singingi. Ini tidak hanya mencakup peningkatan jalan dan transportasi, tapi juga pelabuhan kecil di Sungai Kuantan, jaringan internet kuat untuk mendukung live streaming, serta pembangunan kampung budaya atau pusat edukasi Pacu Jalur sebagai atraksi sepanjang tahun.

“Pacu Jalur itu hanya beberapa hari dalam setahun. Tapi bagaimana dengan 360 hari lainnya? Jika tidak ada ekosistem wisata yang berjalan di luar even, maka dampaknya tidak berkelanjutan bagi masyarakat,” jelasnya.

Di sisi promosi, Gatot mengkritik pola komunikasi pariwisata yang selama ini bersifat reaktif dan tidak terintegrasi. Ia mengapresiasi viralitas aura farming, tetapi menekankan pentingnya langkah institusionalisasi promosi budaya. Menurutnya, Pemprov Riau dan Pemkab Kuansing harus mulai menjalin kerja sama dengan platform digital, kanal media internasional, serta kementerian terkait, bukan sekadar berharap dari konten organik.

“Kita butuh narasi budaya yang dikurasi secara profesional. Harus ada dokumentasi Pacu Jalur yang digarap sekelas dokumenter Netflix. Harus ada brand ambassador yang membawa nama Pacu Jalur keliling dunia,” kata Gatot.

Ia menyarankan agar influencer marketing dikombinasikan dengan strategi promosi destinasi. Misalnya, kolaborasi antara konten kreator TikTok lokal dengan pesohor dunia yang sudah mengangkat aura farming ke publik global. “Kalau Travis Kelce dan KSI bisa menari seperti Anak Coki, mengapa kita tidak jadikan itu sebagai pintu diplomasi budaya yang dirancang?” tambahnya.

Lebih jauh, Gatot juga menggarisbawahi potensi ekonomi kreatif turunan dari Pacu Jalur. Ia menyebut perlunya business matching antara pelaku UMKM lokal dengan pelaku industri kreatif, baik untuk menjual merchandise, produk fesyen khas jalur. “Kalau kita pintar, yang dijual bukan hanya pertunjukannya, tapi seluruh ekosistemnya mulai dari cerita, kostum, musik, bahkan semangatnya,” ujarnya.

Sebagai penutup, Gatot mengingatkan bahwa viralitas hanyalah api awal. Tanpa kayu bakar berupa infrastruktur dan strategi promosi jangka panjang, maka kobaran minat publik akan padam begitu saja. “Kita sedang menghadapi momentum langka di mana budaya tradisional bisa jadi mata uang baru dalam ekonomi daerah. Tapi hanya jika kita punya keberanian dan kecerdasan untuk mengelolanya secara terukur,” pungkasnya. ***