BAHASA merupakan medium ekspresi kesusastraan. Oleh sebab itu, sangat sulit untuk memisahkan sastra dari bahasa. Apabila, bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau yang dikukuhkan sebagai salah satu alat pemersatu bangsa maka sesungguhnya juga Riau ikut memberikan sumbangan di bidang kesusastraan Indonesia.

Seluruh orang Riau boleh berbangga hati karena budaya berbahasa (baca: sastra) akan terus dikenang sepanjang masyarakat pemakai bahasa itu tetap ada dan terpelihara.

Riau yang kaya akan semak-resam budaya Melayu, sejak lama telah memainkan peranan sangat penting. Keberadaan budaya Melayu mencapai puncaknya pada masa jaya kerajaan Melayu Riau-Johor dan Riau-Lingga. Sejarah kemudian telah mencatat bagaimana peran pujangga Raja Ali Haji yang mengarang Gurindam 12 dan Kitab Pengetahuan Bahasa dalam mengembangkan tradisi bahasa dan sastra.

Itulah sebabnya, budayawan Riau, UU Hamidy sejak belasan tahun silam telah menahbiskan bahwa Riau merupakan Pusat Kebudayaan dan Bahasa Melayu. Pusat kebudayaan dalam arti begitu banyaknya nilai-nilai budaya yang mencuat dari ranah Melayu-Riau yang memperkaya khasanah kebudayaan di kawasan serumpun Melayu yang kini meliputi Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan sebagian Filipina serta Thailand Selatan.

Raja Ali Haji merupakan salah satu tokoh yang memegang peranan penting dalam perkembangan sastra Indonesia. Meski sebenarnya masih banyak pujangga Melayu yang sezaman dengannya bertungkus-lumus dalam dunia sastra. Riau sejak dulu memang kaya dengan nilai bdan khasanah kesusastraan yang diwujudkan dengan suburnya pertumbuhan karya sastra lama seperti pantun, bidal, gurindam, pepatah-petitih, syair dan sebagainya.

Secara turun-temurun dan berkelanjutan, tradisi bahasa dan sastra Riau ini tetap bertahan dan terpelihara. Budayawan Hasan Junus menyebutkan setidak-tidaknya ada beberapa 'junjungan buih' sastra Riau yang dimulai dari Raja Ali Haji pada rentang abad ke-19, Sutardji Calzoum Bachri dan Taufik Ikram Jamil pada rentang abad ke-20. Namun di antara rentangan sejarah yang panjang itu, terhimpun puluhan bahkan ratusan sastrawan yang tunak dengan karya-karyanya dan menabalkan diri sebagai penyair, cerpenis, novelis (baca : romanis), dan esais atau pengamat sastra.

Karya sastra Melayu yang lahir dan terbit di Tanah Melayu Riau dalam bentang sejarah yang panjang sejak dulu hingga kini inilah yang disebut sebagai sastra daerah.

Sastra Daerah dan Lokalitas Melayu

Sastra lokal atau sastra daerah di Indonesia telah muncul sejak periodisasi awal kesusastraan Indonesia. Pasa masa Angkatan Pujangga Lama, bentuk-bentuk sastra lokal  ini sangat dominan sehingga menjadi representasi daerah dengan kekayaan nilai-nilai budaya lokal yang cukup menonjol.

Pada awal perkembangannya, sastra daerah ini lebih dominan dalam bentuk tradisi lisan. Bahkan, tradisi lisan itu tak jarang berbaur atau menjadi bagian dari musik tradisional.

Masing-masing daerah di Indonesia memiliki bentuk sastra lokal yang menjadi simbol-simbol etnik yang mudah dikenali dan difahami karena karakteristiknya. Secara periodisasi, karya-karya sastra daerah baik lisan maupun terulis memperlihatkan ikon daerah masing-masing sejalan dengan periodisasi sastra dimulai sejak Zaman Klasik, Peralihan, Balai Pustaka, Pujangga Baru hingga Angkatan 45.

Pada Zaman Klasik, karya sastra bermunculan dari lingkungan istana dan cenderung diabdikan untuk kepentingan raja. Sebutlah sejumlah pengarang dari Aceh pada masa itu seperti Tun Sri Lang (Sejarah Melayu), Nuruddin Arraniri (Bustanus Salatin), dan Hamzah Fansuri. Di Tanah Jawa muncul pula sejumlah pengarang ternama seperti Mpu Kanwa (Arjuna Wiwaha), Mpu Prapanca (Negara Kertagama), dan sebagainya.

Munculnya bentuk karya sastra lokal itu merupakan refleksi dari nilai-nilai sosial-budaya yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari pada zamannya. Sebagian besar tradisi sastra pada masa klasik ini sudah ada yang tenggelam dan masih ada yang tetap bertahan atau mengalami modifikasi atau tafsiran baru.

Di antara karya sastra lama sebagai sastra daerah/lokal yang ada di dalam sastra Indonesia pada umumnya ditemukan dalam sastra Melayu-termasuk sastra daerah Riau- dari masa ke masa adalah:

Bentuk puisi (pantun, talibun, gurindam, seloka, syair, nyanyi panjang mantra dan sebagainya).

Bentuk prosa (dongeng, fable, mitos, sage, cerita rakyat (folklore), kisah, riwayat-sejarah, babad, kaba, tambo), hikayat, pelipur lara dan sebagainya.

Sastra Melayu Riau adalah Sastra Daerah Sastra daerah atau sastra Melayu yang ada di Tanah Melayu Riau secara turun-temurun yang dikenal sebagai sastra atau tradisi lisan sjak dulu telah tumbuh dan berkembang secara subur di tengah-tengah masyarakat penggunanya.

Wujud tradisi lisan itu secara mudah ditemukan di kelompok-kelompok masyarakat tradisional berupa nyanyian, mantera, permainan kanak-kanak atau ucapan-ucapan dalam adat tradisi yang diamalkan secara turun temurun.

Letak Provinsi Riau di tengah-tengah Pulau Sumatera yang dikepung oleh sejumlah daerah sempadan (perbatasan) dengan adat dan tradisi yang cukup menonjol mengakibatkan proses akulturasi seni budaya masyarakat di wilayah perbatasan itu memiliki pengaruh atau 'keterpengaruhan' yang berlangsung melalui pergaulan dan komunikasi sehari-hari.

Sastrawan Ediruslan Pe Amanriza menyebutkan bahwa setidak-tidak ada 7 subkultur yang berpengaruh pada masyarakat Melayu Riau yakni:

- Subkultur Minangkabau (di wilayah Kabupaten Kampar dan Kuantan Singingi. Misal Randai Kuantan);

- Subkultur Batak/ Tapanuli (di wilayah Kabupaten Rokan Hulu dan Rokan Hilir)

- Subkultur Bugis (di wilayah Indragiri Hilir)

- Subkultur Banjar (di wilayah Indragiri Hilir. Misal Madihin dll)

- Subkultur Jawa (umumnya di pedalaman daerah Riau di sejumlah kabupaten termasuk proses transmigrasi yang berlangsung lama)

- Subkultur Arab (di sebagian wilayah Indragiri Hulu dan Siak Sriindrapura yang ditandai dengan gelar-gelar Said, Tengku, Tengku Said dsb)

- Subkultur Tionghoa (umumnya di wilayah-wilayah pesisir atau pulau-pulau).

Adanya realitas sosial budaya yang berlangsung sejak dulu hingga sekarang melalui proses asimilasi dan akulturasi seni budaya tersebut maka di berkembanglah seni atau tradisi budaya termasuk sastra daerah yang berasal dari kultur daerah asalnya.

Realitas inilah yang menjadi Tanah Melayu Riau sejak dulu menjadi daerah terbuka yang berpeangruh pada karakteristik masyarakat tempatan yang juga terbiasa bersikap terbuka dalam menerima para pendatang sehingga hamper tidak pernah terjadi pergesekan-pergesekan sosial budaya di daerah ini.

Sastra lisan atau tradisi lisan di Riau ini, telah diperjuangkan oleh Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kebudayaan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang jumlahnya mencapai 21 WBTB.

Sastra lisan atau tradisi lisan di Riau secara nyata bisa ditemukan di setiap kabupaten atau pedesaan yang dulunya menjadi denyut nadi dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam hal ini secara mudah ditemukan tradisi lisan seperti Nyanyian Panjang, Koba, Mararok, Bedikiu dan masih banyak lagi. Tentu pemetaan sastra daerah atau tradisi lisan daerah ini sudah dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Riau.

Fenomena perkembangan sastra daerah di masa penjajahan dan awal kemerdekaan di Indonesia telah diperankan oleh para sastrawan daerah dengan mengangkat nilai tradisi dan budaya masing-masing.

Para sastrawan ini secara geografis menjadi pemakai dan pelanjut tradisi yang ada dengan cara menulis puisi, cerpen, roman dan naskah drama/teater yang fenomenal pada zamannya.

Para sastrawan Angkatan Pujangga Baru, Balai Pustaka dan Angkatan 45 cukup produktif melahirkan karya-karya sastra dengan tema kedaerahannya. Tema-tema karya mereka mencerminkan potret sosial yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari seperti pertentangan nilai lama dan nilai baru.

Meski tidak semua daerah di Indonesia memiliki representasi sastrawan yang mengangkat nilai-nilai tradisi dan etnik, namun beberapa daerah dengan karakteristik budaya lokal yang kuat dapat disebutkan di antaranya Minangkabau, Aceh, Jawa, Betawi, Sunda, Madura, Dayak, Bugis dan Ambon dan Melayu.

Dalam pandangan luas pula Maman S. Mahayana dalam Akar Kata menyatakan ''…kesusastraan Indonesia dan Malaysia pun sesungguhnya bersumber dari akar tradisi yang sama yaitu kesusastraan Melayu. Dalam hal ini, peranan Raja Ali Haji di Riau dan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi di Singapura merupakan pangkal kedua bangsa itu mengenal alat cetak yang kemudian menjadi salah satu ciri kemodernan kesusastraan di kedua negara ini.''

Karya-karya sastra yang lahir pada masa penjajahan Belanda dan Jepang serta masa kemerdekaan 1945 dan Angkatan 50-an, hingga kini cenderung dikelompokkan sebagai sastra daerah. Sebutlah nama-nama sastrawan yang mewakili daerahnya masing-masing seperti sastra daerah Betawi selalu direpresensasikan oleh novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Dt. Madjoindo atau sastra daerah Minangkabau diwakili oleh sejumlah pengarang terkenal seperti Hamka, Abdul Muis, Muhammad Yamin, Merari Siegar Nur St. Iskandar dan lain-lain. Begitu pula, Tanah Melayu (Deli dan Riau) diwakili oleh pengarang-pengarang Amir Hamzah, Amal Hamzah, M. Kasim, Soeman Hs dan masih banyak lagi.

Lokalitas Sastra atau Warna Lokal

Fenomena lokalitas, warna lokal atau subkultur dalam sastra Indonesia muncul ke permukaan pada era 1980-an. Para sastrawan yang berkhidmat di ranah kultural masing-masing mengusung warna lokal beranjak dari pemahaman dan kesetiaan dalam memegang teguh nilai-nilai kultural yang kuat di lingkungan sosial-budayanya. Bahkan Mursal Esteen secara mendalam mengupas masalah warna lokal atau sub-kultur tersebut. Sejumlah sastrawan yang mengangkat warna lokal tersebut di antaranya, Romo Y.B. Mangunwijaya, Linus Suryadi AG, Ahmad Tohari, Darmanto Jatman (Jawa), Ajip Rosidi Ayat Rohaedi (Sunda), Nur Zen Hae (Betawi), Tan Lio Ie (Tionghoa), Oka Rosmini (Bali), A.A Navis, Chairul Harun, Darman Moenir, Harris Effendy Tahar, Gus Tf, Yusrizal KW (Minangkabau), Korrie Layun Rampan (Dayak), Sitor Situmorang (Batak), D. Zawawi Imron (Madura), LK. Ara (Aceh) Ayat Rohaedi dan sebagainya.

Khusus lokalitas Melayu di Riau sesungguhnya sudah wujud dalam karya sastra sebagian besar sastrawan Riau. Mata rantai itu terus berkesinambungan sejak Zaman Klasik di mana begitu menguatnya bentuk-bentuk karya sastra lama seperti pantun, syair dan gurindam. Tradisi ini berlanjut pada Zaman Pujangga Baru yang dipresentasikan oleh pujangga Soeman Hs.

Kemudian pada masa Angkatan 66 dan 70-an dapat disebutkan sejumlah nama sastrawan di antaranya: seperti Rustam S. Abrus (nama pena di majalah Horison: Rus Abrus), Tenas Effendy, Hasan Junus, Sutardji Calzoum Bachri, Idrus Tintin, Ibrahim Sattah BM. Syamsuddin, Wunulde Syaffinal, Taufik Effendy Aria, Rida K. Liamsi (nama pena di majalah Horison: Iskandar Leo), Sudarno Mahyuddin, Bustamam Halimy dan masih banyak lagi.

Sastrawan asal Riau periode 1980, 1990 hingga sekarang, baik yang masih produktif maupun kurang produktif berkarya dapat disebutkan di antaranya: Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Abel Tasman, Tien Marni, A. Aris Abeba, H Dheni Kurnia, Kazzaini Ks, Mosthamir Thalib, Hary B. Koriun, Marhalim Zaini, Ollyrinson, Murparsaulian, Gde Agung Lontar (nama pena Fadillah Sarin), Hang Kafrawi, Griven H. Putra, Bambang Kariyawan, Kunni Masrohanti, DM. Ningsih, Budy Utamy, Jeffry al-Malay, Riki Utomi, Muhammad De Putra dan masih banyak nama lagi.

Sastra daerah Riau yang ditandai dengan sastra tradisi lisan telah tumbuh dan berkembang di kampung-kampung sejalan dengan perkembangan seni-budaya Melayu sejak dulu. Bahkan sebagian sastra lisan tersebut masih menjadi bagian tradisi budaya masyarakat Melayu yang terus berhadapan dengan nilai-nilai modern yang tak terkendali melalui teknologi internet, film dan media sosial (Youtube, Facebook, Instagram dan sejenisnya). Oleh sebab itu, sastra daerah di Tanah Melayu Riau ini dapat dikelompokkan menjadi:

Sastra Lisan/Tradisi Lisan

Sastra lisan atau tradisi lisan yang sudah ada dan terus berkembang secara turun temurun yang menyatu dengan kehidupan masyarakat sehari-hari terutama di daerah pedalaman Riau.

Sastra lisan atau Sastra Melayu Lama sering juga disebut Sastra Melayu Klasik, Sastra Melayu Kuno atau Sastra Melayu Purba. Yang digolongkan karya sastra Melayu lama adalah karya sastra yang muncul sejak masa purba sampai tahun 1920an. Contohnya antara lain Sejarah Melayu, Taman Raja-raja dan Hikayat Hangtuah.

Adapun ciri-ciri Sastra Melayu Lama yaitu:

1. Statis, maksudnya terikat dalam aturan-aturan yang ketat.

2. Milik bersama karena tidak diketahui pengarangnya (anonym).

3. Isi berkisar seputar kerajaan.

4. Banyak menggunakan kata-kata klise misalnya konon atau sebermula

5. Disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut

6. Banyak dipengaruhi budaya Melayu dan Arab

7. Berbahasa melayu kuno

8. Berisi ajaran hidup atau didaktis

9. Bersifat khayalan misalnya ada manusia bisa berubah wujud.

Di Tanah Melayu Riau, Sastra Melayu Lama ini masih dijumpai berupa tradisi Syair, Pantun, Gurindam, Karmina, Seloka, Nyanyian dan sebagainya.

Sastra Melayu Modern Berupa Prosa dan Puisi

Karya sastra ini ditulis oleh para sastrawan Riau lintas generasi dengan gaya modern namun pada umumnya masih berpijak pada kekayaan khasanah dan nilai-nilai budaya Melayu Riau. Inilah yang disebut dengan Lokalitas Melayu. Fenomena khas karya sastra Riau ini oleh pengamat Melayu Belanda, R.O. Winstedt disebut Rau School atau 'Mazhab Riau.'

Karya sastra yang lahir dalam tradisi Sastra Modern ini setidak-tidaknya sudah ada pada masa Angkatan Pujangga Baru dan Balai Pustaka yang disebut sebagai Sastra Lokal Melayu. Misalnya, karya-karya pujangga Soeman Hs.

Sedangkan karya sastra yang ditulis penulis Riau setelah era kemerdekaan, Angkatan 66, 70 dan 80-an hingga Era Milenial sekarang lebih tepat disebut sebagai Lokalitas Sastra baik dalam bentuk puisi maupun prosa.

Realitas perkembangan sastra di Riau dsejalan semakin banyaknya media yang membuka peluang bagi sastrawan daerah untuk berkarya telah menimbulkan sikap 'manja'. Sekadar bandingan, bila pada tahun 1980-an jumlah media yang terbit di Riau hanya sebuah surat kabar saja maka pada tahun 2002 ini sejalan dengan euforia reformasi telah muncul 15 media yang sebagian besar di antaranya menyediakan rubrik sastra terutama cerpen dan puisi.

Artinya, banyak sastrawan -terutama angkatan muda- yang merasa puas hanya memublikasikan karyanya di media-media nasional yang terbit di daerah Riau sendiri. Ditambah pula dengan terbitnya sejumlah majalah budaya seperti majalah Sagang (bulanan) dan majalah Berdaulat (terbit triwulan) justru khusus menampung karya-karya sastra.

Tradisi sastra Riau terus berkembang dari generasi ke generasi. Hal ini ditandai dengan kegairahan para sastrawan dalam menghasilkan karya dengan berbagai genre penulisan yang cukup beragam. Hal ini dimungkinkan dengan adanya rubrik sastra budaya yang disediakan oleh belasan surat kabar dan majalah yang terbit di Riau.

Di antaranya yang paling konsen memberikan ruangan bagi kreativitas sastra itu adalah Riau Pos Media Group. Hal ini dimungkinkan dengan keberadaan sastrawan Rida K. Liamsi yang menjadi tokoh penting dalam manajemen grup media tersebut.

Rida pula yang mendirikan Yayasan Sagang dengan tradisi Anugerah Sagang yang memberikan penghargaan kepada seniman/ budayawan dan sastrawan yang berkarya. Bahkan anugerah budaya ini sudah mencapai lebih dari 20 tahun tanpa henti.

Melalui Yayasan Sagang dan Harian Riau Pos tersebut hampir tiap tahun di terbitkan buku-buku sastra baik prosa, puisi maupun kumpulan esai dan kritik sastra. Dari buku-buku yang diterbitkan itu maka tercatatlah nama-nama penulis atau sastrawan lintas generasi yang sangat monumental.

Setidak-tidaknya ada beberapa buku penting yang pernah terbit di Riau yang sedikit banyaknya dapat memetakan perjalanan sastra dan sastrawan yang berperan di dalamnya yakni:

100 Tahun Cerpen Riau

Buku setebal 757 halaman ini terbitan Dinas Kebudayaan Provinsi Riau tahun 2014. Buku ini merupakan pengembangan dari buku Satu Abad Cerpen Riau terbitan Yayasan Sagang tahun 2004. Terdapat 100 cerpen dari penulis cerpen di Riau.

999 Sehimpun Puisi Penyair Riau

Buku setebal 1.111 halaman yang digagasn oleh Rida K. Liamsi dan diterbitkan oleh kerja sama Komunitas Sasrra Riau dan Sagang Intermedia Pers tahun 2018. Terdapat 145 penyair dengan beragam karya puisinya.

Leksikon Sastra Riau

Buku yang ditulis oleh Agus Danardana dan Hary B. Koriun berisi data nama sastrawan, tonggak penting sastra dan karya sastra dari para sastrawan Riau. Buku dengan judul yang hampir sama pernah pula ditulis dan diterbitkan oleh Husnu Abadi.

Antologi Puisi Pekanbaru '80

Buku yang diselenggarakan oleh Husnu Abdi dan Fakhrunnas MA Jabbar dalam bentuk stensilan yang menghimpun puisi-puisi para penyair Riau pada tahun 1980-an.

Urgensi Pemetaan dan Perlindungan Sastra Daerah

Perkembangan Sastra Melayu Lama dan Modern di Era Globalisasi hingga kini tak lepas dari gempuran budaya luar yang merasuk melalui teknologi komunikasi digital atau internet yang tak bisa dihindari. Akibatnya eksistensi sastra daerah/ sastra Melayu tersebut terancam dan apabila tidak dicermati secara sungguh-sungguh suatu saat sastra Melayu-terutama Sastra Melayu Lama-akan tersingkir atau punah dari masyarakat pembacanya.

Sedangkan Sastra Melayu Modern atau Lokalitas Sastra Melayu sebagai karyasastra modern akan lebih eksis dengan menyesuaikan diri sejalan dengan perkembangan teknologi dan perkembangan zaman.

Keberadaan sastra daerah di Riau ini perlu diselamatkan atau dilindungi agar tetap dapat diwariskan ke generasi-generasi mendatang. Sebab kekayaan nilai-nilai budaya Melayu yang santun, lembut dan luhur sebagaimana sudah terbukti selama ini harus menjadi kemauan politik (political will) pihak pemerintah.

Dalam hal ini, penelitian dan pemetaan Sastra Melayu Lama ini sangat urgent (mendesak) dilakukan. Apa yang sudah pernah dilakukan oleh berbagai lembaga baik pemerintah maupun non-pemerintah yang sudah melakukan inventarisasi perlu dihimpun kembali atau dilanjutkan sebagaimana mestinya.

Pola penyelamatan atau perlindungan berbagai sastra daerah di Riau ini sebagaimana pernah dilakukan sebelumnya dengan cara perekaman, audio visual, micro film, cetak ulang, inventarisasi dan sebagainya dapat dilakukan sesuai kemampuan yang ada. Semua ini sangat dimungkinkan  sejalan dengan era teknologi komunikasi digital yang cukup canggih. ***

Bahan Bacaan:

Djarot, Sutrianto Az-Zumar dkk. 2014. 100 Tahun Cerpen Riau. Dinas Kebudayaan Provinsi Riau.

Este, Pamusuk. 1986. Mengapa & Bagaimana Saya Mengarang Penerbit PT Gunung Agung, Jakarta.

Esteen, Mursal. 1984. Sastra Indonesia dan Tradisi Sub-Kultur. Penerbit Angkasa, Bandung.

Harjana, Andre. 1983.Kritik Sastra, Sebuah Pengantar. Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1983.

Hamidy, U.U. 1987. Tema Keadilan dan Kebenaran dalam Karya Sastra Indonesia. Penerbit Bumi Pustaka, Pekanbaru 1987.

___________. 1998. Teks dan Pengarang di Riau Penerbit Unri Press, Pekanbaru.

Imron, D. Zawawi. 1986. Celurit Emas.  Penerbit Bintang, Surabaya.

Ismail, Taufik dan Hamid Jabbar. 1998. Panorama Sastra Indonesia. Penerbit PT Balai Pustaka, Jakarta.

Jamil, Taufik Ikram. 1997. Sandiwara Hang Tuah. Grasindo, Jakarta.

Kayam, Umar. 1993. Para Priyayi. Penerbit  Pustaka Utama Grafiti, Jakarta.

KSI. 1988. Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi oleh KSI, Penerbit Komunitas Sastra Indonesia, Jakarta.

Liamsi, Rida K. 2016. Matahari Cinta Samudera Kata. Yayasan Hari Puisi dan Yayasan Sagang.

____________. 2018. 999 Sehimpun Puisi Penyair Riau. Komunitas Sastra Riau dan Sagang Intermedia Pers.

Luxemburg, Jan van dkk. 1992. Pengantar Ilmu Diidonesiakan oleh Dick Hartoko, Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1992.

Mahayana, Maman S. 2001. Akar Melayu – Sistem Sastra dan Konflik Ideologi di Indonesia dan Malaysia. Penerbit Indonesia Tera, Yogyakarta.

_________________. 2007. Lokalitas alam Sastra. Website HIPERLINK "https://www.mahadewa" www.mahadewa. com.

_________________.2015. Kitab Kritik Sastra. Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta.

Mangunwijaya, YB. 1981. Burung-burung Manyar. Penerbit Djambatan, Jakarta.

Murniah, Dad. 2008. Warna Lokal dalam Sastra Indonesia. website pusatbahasa.diknas.go.id/laman/nawala pusatbahasa).

Natawidjaja, P. Suparman. Apresiasi Sastra dan Budaya. Penerbit PT Intermasa, Jakarta.

Naveau, Etienne. 2015. Kata Pengantar dalam buku Kitab Kritik Sastra oleh Maman S. Mahayana. Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta.

Parnickel, Boris. 1995. Sastra Nusantara Serumpun, Abad ke-7 – Abad ke 19, Penerbit Dewan Bahasa dan Pustaka, Kualalumpur, Malaysia, 1995

Pradopo, Rahmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Rachmat Djoko Penerbit Pustaka Pelajar.

Rampan, Korrie Layun. 1978. Upacara. Penerbit Pustaka Jaya, Jakarta.

Ratna Dr. Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Rosidi, Ajip. 1988. Sejarah Sastra Indonesia. Penerbit Bina Aksara, Jakarta.

Suryadi AG, Linus. 1981. Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa. Pustaka Sinar Harapan Jakarta.

Tohari, Ahmad. 1981. Ronggeng Dukuh Paruk. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

W.S, Hasanuddin. 2004. Ensiklopedia Sastra Indonesia. Angkasa, Bandung.

Penulis adalah sastrawan, budayawan, wartawan dan dosen.