
PEKANBARU – PSPS Pekanbaru menghadapi laga berat pada pekan ketiga Liga 2 Indonesia melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Bogor, Senin (29/9/2025). Pertandingan ini bukan hanya soal perebutan poin, melainkan juga menjadi panggung penentu arah hubungan antara tim, pelatih dan dukungan suporter.
Garudayaksa datang dengan modal sempurna. Tim asal Yogyakarta itu meraih enam poin dari dua laga awal dengan catatan meyakinkan: menang 2-0 atas Sriwijaya FC dan 4-0 atas Persekat Tegal. Di sisi lain, PSPS baru mengumpulkan satu poin. Kekalahan dari Bekasi City di laga perdana serta hasil imbang 3-3 saat menjamu PSMS Medan membuat perjalanan Askar Bertuah tersendat sejak awal.
Hasil imbang melawan PSMS di Pekanbaru, sepekan lalu, menjadi titik krusial. PSPS yang sempat unggul 3-1 akhirnya harus puas berbagi angka setelah gawangnya kebobolan pada injury time. Seusai laga, suasana di Stadion Kaharuddin Nasution memanas. Suporter menuntut pelatih kepala Ilham Romadhona mundur.
Dalam sebuah video yang tersebar di media sosial, Ilham terlihat menerima desakan itu. “Hari ini saya berdiri di sini (di hadapan suporter). Hari saya (diminta) angkat kaki, saya angkat kaki,” ujarnya. Ucapan itu disambut berbagai reaksi, dari simpati hingga tekanan lebih keras kepada manajemen klub.
Namun, sehari menjelang laga melawan Garudayaksa, Ilham memastikan dirinya tetap mendampingi tim. “Pemain dalam kondisi baik, situasi kondusif. Insya Allah mereka siap bertanding dan menampilkan permainan menarik,” katanya dalam konferensi pers, Minggu (28/9/2025).
Ia menegaskan, keputusannya untuk mundur lebih pada menjaga stabilitas tim, bukan menyerah pada desakan. Selama belum ada keputusan resmi dari manajemen, ia tetap bekerja profesional.
Pemilik PSPS, Gede Widiade, menyatakan akan memanggil seluruh tim ke Jakarta pada pekan depan untuk membahas persoalan internal. “Soal memutus (pelatih) gampang. Tapi kita harus tahu dulu masalahnya apa, kelemahannya di mana. Saya ingin dengar laporan langsung dari tim,” ucapnya, Ahad (21/9/2025).
Gede juga menegaskan pihaknya sudah berusaha memenuhi seluruh kewajiban, termasuk pembayaran gaji tepat waktu, dan membuka ruang kritik dari suporter. “Kritik keras boleh, kritik wajib. Tapi jangan sampai anarkis. Kalau sudah berbuat pidana, saya tak segan membubarkan PSPS,” katanya.
Pertandingan melawan Garudayaksa FC hari ini menjadi lebih dari sekadar uji taktik. Hasilnya bisa menentukan arah perjalanan PSPS musim ini apakah tetap bersama Ilham Romadhona atau beralih ke nakhoda baru. Suporter, yang suaranya makin nyaring di tribun maupun media sosial, jelas akan menunggu jawaban di lapangan. ***