DUMAI - Penyebaran HIV/AIDS di Kota Dumai, Riau, semakin tak terbendung lagi. Buktinya, seorang balita (bawah lima tahun) meninggal dunia, Hari Sabtu (14/1/2017) lalu.

Hal itu dikatakan Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Dumai Rudi Samson kepada GoRiau.com (GoNews Grup) disela-sela sosialisasi HIV/AIDS di Hotel Super Star Jalan Sultan Hasanuddin (Jalan Ombak).

"Penyebab balita perempuan berusia 3 tahun meninggal dunia karena penyakit diare dan tuberkulosis. Dimana memang sebelumnya sudah terinfeksi AIDS dari sang ibu," ungkapnya, Selasa (17/1/2017).

Balita ini meninggal dunia dengan berat 5 kilogram, dikatakannya. Ibunya sendiri sudah terinfeksi HIV dan pihaknya tidak mengetahui dari mana penyebaran virus mematikan tersebut.

"Bapak dari sang anak meninggal dunia pada Februari 2015 lalu. Kita pun belum sempat mendeteksi apakah HIV/AIDS yang tertular dari ibu ke anak, sumbernya orangtuannya sendiri, karena sudah lebih dulu meninggal dunia," bebernya.

Baca Juga: Sebagian Penderita HIV/AIDS di Dumai Merupakan Ibu Rumah Tangga

Data KPA Dumai bersumber dari Dinas Kesehatan Dumai. Sejak 2006 sampai 2016 sudah 341 orang terjangkit HIV dan 206 orang terjangkit AIDS.

Baca Juga: Penularan HIV/AIDS di Dumai Tiap Tahunnya Bertambah

"Untuk yang hidup saat ini, orang yang terinfeksi HIV sebanyak 188 orang dan AIDS sebanyak 91 orang. Untuk itu pemeriksaan VCT sangat dianjurkan bagi siapa saja di puskesmas yang ada di Dumai," jelasnya.

Tuberkulosis atau yang disingkat TB, merupakan penyakit menular yang umum dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, namun juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya.

Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatik dan laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang menjadi penyakit aktif. Bila Tuberkulosis tidak diobati maka lebih dari 50 persen orang yang terinfeksi bisa meninggal.

Gejala klasik infeksi TB aktif, yaitu batuk kronis dengan bercak darah sputum atau dahak, demam, berkeringat di malam hari, dan berat badan turun. Infeksi pada organ lain menimbulkan gejala yang bermacam-macam. Diagnosis TB aktif bergantung pada hasil radiologi (biasanya melalui sinar-X dada), serta pemeriksaan mikroskopis dan pembuatan kultur mikrobiologis cairan tubuh.

Sementara itu, diagnosis TB laten bergantung pada tes tuberkulin kulit/tuberculin skin test (TST) dan tes darah. Pengobatan sulit dilakukan dan memerlukan pemberian banyak macam antibiotik dalam jangka waktu lama. Orang-orang yang melakukan kontak juga harus menjalani tes penapisan dan diobati bila perlu.

Resistensi antibiotik merupakan masalah yang bertambah besar pada infeksi tuberkulosis resisten multi-obat (TB MDR). Untuk mencegah TB, semua orang harus menjalani tes penapisan penyakit tersebut dan mendapatkan vaksinasi basil Calmette–Guérin. (sumber: Wikipedia.com)*** #KLIK Disini Untuk Baca Berita DUMAI