
PEKANBARU - Setiap pagi, Aby Fabianz Aditya memutar otak agar bisa berangkat kuliah dan bekerja tanpa membebani keuangan ibunya. Mahasiswa program studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri) angkatan 2025 itu sebelumnya terbiasa meminjam sepeda motor rekannya. Jika kendaraan rekannya tidak tersedia, ia harus mencari alternatif transportasi lain untuk menunjang rutinitas hariannya.
Bagi sebagian kalangan, kendaraan mungkin sebatas alat mobilitas biasa. Namun bagi pemuda yang akrab disapa Abi tersebut, sarana transportasi adalah kunci untuk mempertahankan pendidikan di tengah himpitan ekonomi keluarga. Oleh karena itu, saat namanya tercantum sebagai salah satu penerima fasilitas sepeda dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unri, ia sempat tidak percaya.
"Saya sangat bersyukur. Jujur, bantuan ini sangat berarti bagi saya. Selama ini saya harus meminjam motor teman untuk kuliah atau bekerja. Dengan sepeda ini saya punya kendaraan sendiri dan bisa lebih mandiri," tutur Abi usai menerima bantuan dalam program BEM Unri Berbagi, Rabu (22/7/2026).
Di balik senyumnya, Abi menyimpan beban tanggung jawab yang cukup berat. Ia berprofesi sebagai tenaga pemasaran digital di Balekopitiam, Jalan Nuri, Kecamatan Sukajadi. Pekerjaan sampingan itu dijalaninya demi menyokong kebutuhan finansial selama menempuh pendidikan tinggi. Pendapatan sekitar Rp500 ribu per bulan ia alokasikan untuk biaya makan, membantu sang ibu, serta mencukupi kebutuhan harian.
Abi bertekad untuk tidak terus bergantung pada keluarganya. Ibunya saat ini hanya mengandalkan warung kecil-kecilan guna memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membesarkan adik-adiknya. Sementara itu, untuk urusan pembayaran kuliah, Abi sesekali mendapat bantuan dari neneknya.
"Saya bekerja memang karena butuh. Orang tua sedang mengalami kesulitan ekonomi, jadi saya berusaha jangan terus menyusahkan ibu. Penghasilan dari kerja saya pakai untuk makan, membantu orang tua kalau bisa, dan kebutuhan sehari-hari," urainya.
Kehadiran sepeda tersebut otomatis memangkas pos pengeluaran transportasi. Ia tidak perlu lagi menyisihkan uang bensin atau menyewa kendaraan rekan saat hendak berangkat kerja. Abi mengaku sama sekali tidak malu mengayuh sepeda menuju area kampus maupun tempat kerjanya. Justru, hal itu memicu kebanggaan tersendiri karena sarana tersebut menjadi wujud nyata kepedulian lingkungan akademik terhadap mahasiswa.
"Kalau nanti ada yang bertanya sepeda ini dari mana, saya akan jawab dengan bangga kalau ini bantuan dari BEM Unri. Saya tidak malu. Justru saya bersyukur karena bantuan ini benar-benar bermanfaat," tegasnya.
Abi merupakan satu dari 20 mahasiswa yang menerima fasilitas sarana transportasi dalam rangkaian program tersebut. Selain unit sepeda, BEM Unri turut menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) senilai Rp15 juta dan pendanaan modal usaha sekitar Rp14 juta. Total dana yang direalisasikan menyentuh angka Rp60 juta melalui skema kolaborasi bersama Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Riau, Arif Eka Saputra, Ikatan Alumni (IKA) Unri, Rumah Sakit Unri, kas internal BEM, hingga dukungan instrumen dari Kodam XIX/Tuanku Tambusai.
Presiden Mahasiswa BEM Unri, Muhammad Azhari mengemukakan bahwa inisiatif ini adalah bentuk perwujudan janji saat proses pemilihan. Gagasan pembagian sepeda bagi mahasiswa awalnya sempat diragukan dan menjadi bahan kelakar di lingkungan kampus. Namun, melalui sinergi lintas lembaga, wacana tersebut dapat dieksekusi secara konkret di lapangan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa BEM tidak hanya menyampaikan aspirasi, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi mahasiswa. Mungkin bantuan ini belum bisa memenuhi semua kebutuhan, tetapi setidaknya bisa sedikit meringankan beban teman-teman yang membutuhkan," paparnya.
Pelaksanaan program ini mendapat respons positif dari berbagai pemangku kepentingan. Anggota DPD RI, Arif Eka Saputra menilai kolaborasi tersebut sebagai contoh kepedulian sosial yang patut direplikasi. Selaras dengan pandangan itu, Ketua IKA Unri, Wan Muhammad Hasyim menyebut penyaluran BLT dan sepeda ini sebagai terobosan positif yang baru perdana dilaksanakan secara masif di Universitas Riau.
Wakil Rektor III Universitas Riau, Hermandra turut memberikan apresiasi atas inisiatif BEM. Ia memandang organisasi kemahasiswaan sejatinya bukan sebatas wadah pembelajaran kepemimpinan, melainkan juga instrumen untuk menumbuhkan empati. Ia menaruh harapan agar program sosial ini berkesinambungan.
"Harapan saya program seperti ini terus berlanjut. Masih banyak mahasiswa yang mungkin kondisinya seperti saya. Bantuan ini bukan sekadar sepeda, tetapi memberi semangat bahwa kami tidak berjuang sendirian," pungkas Abi. ***