
ACEH BARAT – Di tengah derasnya arus pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, pemandangan memilukan datang dari Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Di wilayah ini, warga Desa Canggai dan Desa Keutambang masih harus mempertaruhkan nyawa setiap hari untuk melintasi sebuah jembatan darurat yang hanya terbuat dari kabel listrik.
Tali kabel yang dikaitkan di antara dua tebing sungai itu menjadi satu-satunya penghubung tercepat antar desa. Meski berbahaya, warga tetap menggunakannya karena jalur alternatif harus memutar sejauh 2,5 hingga 4 kilometer, sedangkan lewat jembatan kabel ini hanya sekitar 700 meter.
Dari foto yang beredar, tampak warga, termasuk anak-anak dan lansia, bergelantungan di atas kabel tanpa pengaman apa pun. Beberapa di antaranya bahkan membawa barang atau hasil kebun saat menyeberang. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan banyak pihak karena keselamatan mereka terancam setiap kali melintas.
“Kalau lewat jalan lain terlalu jauh, bisa satu jam baru sampai. Lewat sini lebih cepat, tapi kami takut juga. Apalagi kalau habis hujan, licin dan goyang,” ujar salah seorang warga Keutambang, yang mengaku tetap nekat menyeberang karena tidak ada pilihan lain.
Belum adanya jembatan permanen membuat warga harus kreatif menciptakan akses darurat dari kabel listrik bekas yang diikat seadanya. Kondisi ini sudah berlangsung lama, namun hingga kini belum ada tanda-tanda pembangunan infrastruktur pengganti.
Selain membahayakan, penggunaan kabel listrik sebagai jembatan juga berisiko menimbulkan kejadian fatal akibat arus listrik atau kabel putus, terutama saat musim hujan. Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan membangun jembatan yang aman agar aktivitas masyarakat—mulai dari sekolah, bekerja, hingga mengangkut hasil pertanian—tidak lagi menjadi taruhan nyawa.
Fenomena ini menjadi potret kontras antara Aceh yang kaya sumber daya alam dan realitas warga di pelosok yang masih berjuang hanya untuk menyeberang sungai. ***