PEKANBARU, GORIAU.COM - Harapan cabang taekwondo untuk menyumbang medali emas bagi kontingen Riau akhirnya kandas. Olahraga beladiri ini hanya mampu meraih satu perak dan enam perunggu pada laga yang berakhir di Gedung PKM UIN, Panam, Senin (17/9/2012).

Jawa Barat menjadi terbaik di cabang ini dengan tampil sebagai juara umum dengan mengoleksi 5 emas, 2 perak dan 3 perunggu. Menyusul DKI Jakarta dengan medali 3 emas, 5 perak dan 2 perunggu. Sedangkan tim Kaltim yang mematok juara umum sejak awal harus puas finish di posisi ketiga dengan raihan 3 emas dan 2 perunggu.

Sementara Jateng yang merupakan gudang atlet taekwondo setelah Jabar dan DKI, hanya berada di peringkat keempat dengan 2 emas, 3 perak dan 3 perunggu. Peringkat ke lima diisi DIY yang mengemas 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu.

Sedangkan tim Riau sendiri, harus puas finish di peringkat sepuluh, dengan koleksi medali satu perak, 6 perunggu. Satu perak diraih Amalia KP di kelas over 73 Kg putri, sementara 6 perunggu dipersembahkan Aulia Ramadhan yang turun di nomor poomsae putra, Mela Mayasari di kelas under 62 Kg putri serta Galuh Kogas Prakasa, di kelas over 87 Kg putra, Fidya Kamalinda di kelas 67 Kg putri, Agus Nugroho di kelas under 80 Kg putra, Arimbi Ika Erfiana yang turun di kelas under 49 Kg putri.

Arimbi merupakan atlet terakhir yang turun mewakili Riau, Senin (17/9/2012) kemarin, kalah di babak semifinal dari Jabar, Utami Dewi. Dengan hasil ini, raihan yang didapat atlet Riau, sudah mengalami peningkatan dari PON sebelumnya di Kaltim tahun 2008 lalu.

Pada PON 2008 tersebut, Riau hanya meraih satu medali perunggu. Pelatih Kepala Taekwondo Riau, Nico Ardiansyah menjelaskan, tujuh medali yang diraih tim Riau memang tidak sesuai dengan target yang dipatok sejak awal.

Hal ini disebabkan karena persaingan ketat dan daerah-daerah saingan sudah melakukan uji coba beberapa kali ke Korea Selatan. Riau sendiri sebenarnya sudah memprogramkan untuk melakukan uji coba tersebut, namun tidak mendapat dukungan penuh, terutama soal anggaran keberangkatan.

''Apalagi peralatan yang digunakan pada pertandingan kemarin menggunakan chip komputerisasi, jadi memang harus dilatih terus agar terbiasa dan tahu di mana letak poin setiap tendangan. Kalah kita banyak di situ,'' kata Nico Ardiansyah.(*/spc)