SELATPANJANG, GORI.COM - Masyarakat Desa Selatakar, Minggu (30/11/2014) baru saja menyelesaikan ritual sakral 'Ble Kampung' di Dusun ll Desa Selatakar Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. 16 pebuang yang dibuat dari pelepah sagu pun sudah dilepaskan ke laut dan darat sesuai arahan dari wali.
Ketua Panitia Junaidi kepada wartawan mengatakan bahwa ritual ble kampung itu telah dilakukan selama 3 hari. Hari Minggu malam merupakan hari puncak.
Pantauan wartawan pada malam puncak itu, terlihat 16 pebuang (miniatur gedung dan kapal, red) yang disiapkan oleh masyarakat setempat. Pebuang itu akan diletakkan di tempat-tempat yang sudah ditentukan.
"Tempat meletakkan pebuang itu sesuai arahan datuk nantinya. Ada yang di laut dan ada yang di darat," kata Junaidi pada wartawan waktu itu.
Saat malam terakhir tuk dukun, Andak Yut, memulai prosesi ritual sakralnya sekitar pukul 21.00 WIB. Dengan ditemai musik dari pebano (seperti kompang ukuran besar, red), tuk dukun, mulai dimasuki roh-roh gurunya, dan prosesi itu disebut berobat.
Saat berobat inilah tuk dukun memulai prosesinya. Ia menanyakan kepada masyarakat tentang macam-macam pebuang yang sudah disiapkan. Sekaligus melakukan pengecekan apakah sudah lengkap atau belum.
Tuk Dukun juga minta waktu yang pasti kapan akan melakukan pelepasan pebuang itu.
Setelah semuanya dinyatakan lengkap dan siap diletakkan. Tuk dukun langsung mem-ble penari gendong yang merupakan anak-anak setempat dan tarian gendong merupakan tarian yang harus ada saat ble kampung.
Senin, (1/12/2014) masyarakat Akit Desa Selatakar melakukan pelepasan pebuang pada pukul 06.00 WIB.
(zal)