
PEKANBARU – Indonesia dirasa perlu mengambil pelajaran dari tiga negara, yakni India, Nepal dan Rusia. Ketiga negara itu sukses dalam meningkatkan populasi harimau, hingga meningkat dua kali lipat.
Sementara di Indonesia, keberadaan harimau, khususnya Harimau Sumatera hingga saat ini masih terus menjadi sorotan. Hal itu terkait dengan keberadaannya yang terus terancam. Karena itu, dinilai perlu adanya upaya bersama, agar keberadaannya terPaPus terjaga dan populasinya bisa terus meningkat.
Hal itu disampaikan Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni yang diwakili Dirjen Konservasi dan Sumber Daya Alam Ekosistem Kementerian Kehutanan RI, Prof Dr Satyawan Pudyatmoko, saat membuka kegiatan Diseminasi Model Koridor Harimau Sumatera: Terintegrasi FOLU Net Sink 2030 di Lanskap Kerumutan.
Kegiatan ini ditaja Yayasan Paradigma bersama akademisi kehutanan Universitas Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan itu juga disertai dengan peluncuran buku Model Koridor Harimau Sumatera Terintegrasi FOLU Net Sink di Lanskap Kerumutan.
Untuk diketahui, Indonesia's FOLU Net Sink 2030 adalah target sektor kehutanan dan lahan (Forestry and Other Land Use/FOLU) untuk mencapai tingkat serapan karbon lebih tinggi daripada emisi yang dihasilkan pada tahun 2030. Fokus utamanya adalah mengurangi emisi GRK sebesar 140 juta ton melalui pengelolaan hutan berkelanjutan, rehabilitasi, dan restorasi gambut.
Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, merupakan salah satu kawasan konservasi di Riau. Di mana kawasan ini merupakan salah satu rumah bagi populasi Harimau Sumatera.
Dikatakan, lanskap hutan adalah ruang hidup yang dimanfaatkan multi pihak dan kompleks. Namun diharapkan mampu menampung semua kepentingan.
Khusus terkait keberadaan lanskap SM Kerumutan, di dalamnya juga banyak terdapat aktivitas seperti hutan industri, perkebunan sawit, perkebunan dan sektor usaha lainnya. Karena itu perlu diupayakan agar berbagai kepentingan ini jangan sampai membuat populasi Harimau Sumatera kian terpinggirkan.
Karena hal itu bisa melahirkan berbagai dampak, khususnya konflik dengan manusia.
“Perlu pengelolaan secara hati-hati dan berkelanjutan untuk jangka panjang,” ujarnya.
Terkait keberadaan Harimau Sumatera, data menunjukkan ada 22 kasus konflik Harimau Sumatera dengan manusia dalam setahun belakangan ini. Pihaknya berharap, ke depannya konflik ini bisa ditekan semaksimal mungkin.
Dalam hal ini, pihaknya menilai Indonesia perlu belajar dari tiga negara, yakni India, Nepal dan Rusia. Di tiga negara itu, populasi harimau meningkat hingga dua kali lipat. Meski tiga negara tersebut juga padat penduduk dan banyak kepentingan yang menyertainya.
“Untuk bisa mewujudkan harapan ini, semua pihak sangat berperan serta sesuai kapasitas masing-masing,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Direktur Paradigma Riko Kurniawan ancaman terhadap populasi Harimau Sumatera, hingga kini masih berlanjut.
Pihaknya melihat, lanskap Kerumutan yang berada antara aliran Sungai Kampar dan Indragiri, ini memiliki peran yang sangat penting mengingat kawasan ini merupakan habitat bagi populasi Harimau Sumatera di Riau.
Ditambahkan, Yayasan Paradigma bersama ahli kehutanan Universitas Riau telah melakukan kajian bersama terkait koridor bagi Harimau Sumatera di kawasan itu.
“Kegiatan diseminasi ini merupakan upaya yang kita lakukan sebagai sosialisasi kajian tersebut. Pihaknya juga berharap hasil kajian bisa menyumbangkan solusi untuk pemulihan kawasan Kerumutan,” ujarnya.
Ditambahkannya, pemulihan lanskap Kerumutan harus dilakukan bersama usaha, akademisi pemerintahan dan stake holder lainnya, termasuk akademisi, dunia usaha hingga masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Asisten III Setdaprov Riau M Job Kurniawan yang mewakili Plt Gubri mengatakan, kegiatan tersebut adalah momentum strategis untuk menemukan solusi untuk kemaslahatan bersama ke depan.
“Pemprov Riau mendukung segala upaya yang bertujuan menjadikan Riau lebih baik, bukan sekedar harimau tapi juga integritas ke depan bahkan jadi indikator kinerja Pemprov Riau,” ujarnya. ***