
BENGKALIS, GORIAU.COM - Wakil Bupati Bengjalis H Suayatno mengakui kalau kabut asap yang kini tengah melanda daerah yang dipimpinnya merupakan yang terdahsyat dalam tiga bulan terakhir.
''Jujur saja, penanganan karhutla yang terjadi sejak tiga bulan terakhir dan paling dahsyat sepekan ini, sudah di luar kemampuan kita. Penanganannya harus dilakukan secara kolektif, sebab apabila dalam kurun waktu tiga hari kedepan tidak turun hujan maka karhutla yang diselingi kabut asap bakal semakin parah,'' tambah Wakil Bupati Bengkalis, H Suayatno, Selasa (18/6/2013).
Ketidakmampuan tersebut menurut wabup dikarenakan banyak faktor. Diantaranya keterbatasan personil pemadam kebakaran, meskipun seluruh anggota pemadam kebakaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah-Pemadaman Kebakaran (BPD-Damkar) sudah dikerahkan bersama Satpol PP, pihak kepolisian, masyarakat peduli api (MPA) dan dari perusahaan.
Keterbatasan alat pemadam kebakaran juga menjadi penyebab lamanya upaya pemadaman api di lokasi kebakaran yang meliputi desa Tanjung Leban, Sepahat dan Bukit Kerikil. Yang terakhir adalah jauhnya lokasi kebakaran yang terjadi, ditambah lagi dengan kepungan asap membuat petugas kesulitan menuju asal titik api.
''Upaya maksimal telah coba kita lakukan. Namun api terus menyebar ke lokasi lain dikarenakan hembusan angin serta cuaca panas, membuat api terus merembet diatas lahan gambut tebal,'' tambah Wabup.
Pemkab Bengkalis sendiri, tambah Wabup, sudah meminta bantuan pihak BPBD-Damkar Pemprov Riau, Regu Pemadam Kebakaran (Regdam) PT Arara Abadi/PT Mapala Rabda, akan tetapi api belum berhasil dipadamkan. Bahkan Wabup menyebut karhutla serta kabut asap yang terjadi sekarang bisa dikategorikan bencana nasional.
''Informasi terakhir yang saya peroleh dari lapangan luas lahan yang terbakar sudah mendekati 3 ribu hektar. Api terus bergerak di dalam lahan gambut diselingi angin kencang tiga hari terakhir ini. Untuk itu kita sudah meminta bantuan kepada BNPP Pusat dan BKSDA turun tangan membantu penanganan karhutla ini,'' ujar Wabup. (jfk)