
JAKARTA - Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) meminta Badan SAR Nasional (Basarnas) dan unsur terkait lainnya untuk terus mengoptimalkan pencarian delapan orang, termasuk lima jurnalis, yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Komitmen Pengawalan Pencarian
Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa menyatakan lembaganya siap mendorong percepatan pencarian korban yang bertugas meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Tentu DPR akan mendorong kepada seluruh pihak, terutama pihak-pihak terkait dalam hal ini Basarnas maupun yang lain, secara sungguh-sungguh dan terus-menerus untuk mencari keberadaan kelima jurnalis tersebut," ujar Saan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Keberadaan para korban menjadi prioritas utama demi ketenangan pihak keluarga.
"Terutama kita ingin bahwa mereka segera untuk bisa ditemukan keberadaannya ada di mana, karena ini menyangkut, bukan hanya yang bersangkutan, tapi juga keluarga kita semua," jelasnya.
Pesan Keselamatan Kerja
Saan juga mengingatkan pentingnya kalkulasi risiko bagi para jurnalis di lapangan agar insiden serupa tidak terulang kembali.
"Jangan sampai dia nyari berita tapi dia menjadi objek berita, kan gitu. Ini penting juga menurut saya," pungkas Saan.
Sementara itu, upaya pencarian memasuki hari kedua pada Rabu (9/9/2026). Kantor SAR Banten memperluas sektor penyisiran speedboat yang membawa rombongan tersebut di perairan Pandeglang.
Pembagian Tugas Operasi SAR
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad memaparkan operasi dimulai pukul 07.00 WIB dengan mengerahkan armada laut secara terstruktur.
"Dalam pencarian hari kedua, Tim SAR gabungan membagi operasi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) untuk memperluas cakupan area pencarian," tutur Al Amrad.
Penyisiran melibatkan KN SAR Tetuka 247 untuk SRU 1, KAL Anyer untuk SRU 2, serta RIB 01 Lampung untuk SRU 3.
"SRU 4 menggunakan RIB 02 Banten untuk melakukan penyisiran di sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang, yang menjadi salah satu area pencarian berdasarkan hasil evaluasi operasi sebelumnya," rincinya.***