
JAKARTA – Ada sejumlah desa di Indonesia dijuluki kampung janda, karena banyaknya jumlah wanita berstatus janda di kampung tersebut.
Dikutip dari Sindonews.com, 3 di antara kampung janda tersebut adalah Desa Ciburayut, Kampung Batuah dan Kompleks Arbain. Berikut ulasannya.
1. Desa Ciburayut
Kampung paling banyak jandanya di Indonesia adalah Desa Ciburayut di kaki Gunung Salak, Bogor. Mayoritas janda di kampung ini ditinggal mati oleh suaminya yang bekerja sebagai penambang pasir di Gunung Salak dan meninggal karena kecelakaan kerja yang terjadi di daerah tambang pasir.
Selain karena kecelakaan kerja, ada juga suaminya yang meninggal karena sakit. Hal ini membuat jumlah janda di kampung ini banyak sekali.
Ade Suryadi, tokoh masyarakat setempat mengatakan, jumlah janda yang tinggal di Desa Ciburayut ini mencapai 30 orang. Sementara jumlah kepala keluarga yang tinggal di desa ini mencapai 65 kepala keluarga. Jadi, hampir 50% dari keluarga di desa ini terdiri dari janda. Faktor Pendidikan rendah dan tingginya pernikahan dini juga membuat beberapa wanita di desa ini bercerai dua hingga tiga kali.
2. Kampung Batuah
Kampung Batuah berada di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Menurut tokoh setempat, dari 37 rumah di RT 03 Kelurahan Kemuning, Kampung Batuah, ada 26 janda yang harus menghidupi keluarganya. Berarti, hanya 9 keluarga yang memiliki ayah dan suami.
Mayoritas janda di kampung ini ditinggal mati oleh para suaminya. Setelah ditinggal wafat, para janda ini memutuskan tidak menikah lagi dan memilih menghidupi keluarganya sendiri hingga saat ini.
3. Kompleks Arbain
Kampung ketiga yang paling banyak jandanya di Indonesia adalah Kompleks Arbain. Di perumahan ini seluruh kepala keluarganya berstatus janda. Bahkan ketua takmir masjid sampai ketua RT-nya pun seorang janda.
Perumahan ini terletak di RT 7 RW 1 Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Rata-rata para janda yang tinggal di tempat ini tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak dikenakan biaya sewa rumah alias gratis.
Mereka hanya dibebankan biaya hidup sehari-hari, seperti makan dan listrik. Dengan adanya kompleks ini, banyak sekali para janda yang terbantu setelah suaminya meninggal.
Kompleks ini didirikan oleh seorang dermawan bernama Hanif Kamaluddin yang mendapatkan wasiat dari ibunya agar membantu hidup para janda yang tidak mampu.
Hanif akhirnya mendirikan Kompleks Arbain yang berisikan 40 rumah. Sebelum menghuni kompleks ini, para janda akan diperiksa latar belakangnya. Mulai akta nikah, akta cerai, surat kematian suami, dan berbagai dokumen lainnya yang dibutuhkan.
Mereka kemudian harus mematuhi peraturan, tidak boleh membawa tamu laki-laki yang bukan keluarganya ke dalam rumah, kecuali ada tetangga yang menemani.
Sementara mereka yang ingin menikah, dipersilahkan untuk meninggalkan kompleks yang berdiri sejak 2001 itu. Dengan begitu, janda lain yang membutuhkan bisa menempati rumah tersebut.***