PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM - Torehan peningkatan prestasi dalam bidang olahraga diraih oleh Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) At-Taqwa. Meski tahun kemarin tak membukukan prestasi yang memuaskan dalam Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), tapi tahun ini SD IT yang dikepalai oleh Ustadz H Syafrizal Sf SIQ M.MPd MA berhasil menorehkan prestasi dengan masuk lima besar untuk O2SN tingkat kecamatan Pangkalan Kerinci.
"Alhamdulillah, tahun ini anak-anak kita berhasil menjuarai beberapa cabor sehingga dalam pengumpulan poin berhasil masuk lima besar," terang Usadz H Syafrizal di Pangkalan Kerinci, Senin (1/4/2013).
Syafrizal mengatakan bahwa tahun ini dalam gelaran ajang O2SN untuk SD se-Kecamatan Pangkalan Kerinci, para siswa yang mengikuti ajang tersebut berhasil meraih 1 medali emas dan tiga (3) medali perak. Atas prestasi itu, SD IT At-Taqwa berhasil mengumpulkan sembilan (9) point sehingga masuk dalam lima besar juara.
"Untuk medali emas sendiri diperoleh dari cabor tenis lapangan putri atas nama Annisa Dewi Sartika, sedangkan medali perak diraih dalam cabor tenis lapangan putra atas nama M Faras Akbar, juara dua bulutangkis putra yang berhasil diraih oleh Syukur dan juara dua pencak silat atas nama M Noval," ujarnya.
Atas raihan prestasi ini, sambungnya, maka pihaknya akan mempersiapkan dengan melakukan frekuensi latihan bagi peraih medali emas untuk cabor tenis lapangan putri yang akan maju ke tingkat kabupaten. Hal ini juga adalah sebagai bentuk upaya dukungan pihaknya bagi para siswa-siswi yang berhasil menorehkan prestasi dalam bidang olahraga.
"Dan ini juga sesuai dengan misi dari sekolah kita yakni berprestasi dalam bidang akademik, seni budaya dan olahraga. Dan untuk peningkatan prestasi ini, kita juga telah menjalin komunikasi dengan pelatih, sekolah dan guru sehingga semuanya bisa lancar," ujarnya.
Namun diakuinya bahwa dalam O2SN yang digelar pada tanggal 26-28 Maret lalu itu, dirinya agak kecawa dengan pihak panitia yang dinilai tak profesional dalam memanage jadwal pertandingan. Dalam pertandingan bulutangkis, misalnya, para siswa yang ikut berlaga di cabor tersebut harus menjalani pertandingan sampai babak final dalam satu hari itu.
"Bayangkan saja, untuk cabor bulutangkis pertandingannya dilangsungkan satu hari itu sampai babak final. Kita saja yang dewasa akan kehabisan napas jika pertandingan dipaksakan dalam satu hari penuh, apalagi anak-anak. Kalau seperti ini kejadiannya, bukan prestasi nanti yang didapat tapi nanti malah penyakit yang datang karena terlalu cape," ungkapnya.
Bukan cuma itu, lanjutnya, dalam pertandingan sepakbola juga terjadi hal-hal yang tak fair. Sebagai contoh adalah para pemain sepakbola yang usianya dibatasi namun kenyataannya di lapangan, mereka yang bermain justru yang usianya sudah melebihi dari batas waktu yang ditetapkan. Ironisnya lagi, pihak panitia seolah-olah tak menggubris persoalan ini.
"Padahal tujuan O2SN selain untuk mencari bibit-bibit yang berbakat dalam bidang olahraga, langsung atau tidak juga menanamkan rasa kejujuran dan fair play pada para pemain, pelatih dan pihak penyelenggara," tandasnya.
Ditambahkannya, karena itulah pihaknya mengharapkan agar ke depan pihak panitia dari Dinas Pendidikan Pelalawan dapat lebih profesional dalam mengatur dan mengelola pelaksanaan O2SN tingkat kecamatan ini. Soalnya, O2SN adalah ajang dalam pencarian bibit-bibit siswa yang berbakat dalam bidang olahraga tapi jika persoalan non teknisnya tak dikelola dengan profesional maka dikhawatirkan hakekat dari pelaksanaan O2SN sendiri jadi tak tercapai. (ilm)