SELATPANJANG, GORIAU.COM - Belasan pemuda dari Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Indonesia, Jumat (24/4/2015) lalu berangkat ke Malaysia. Mereka menampilkan musik khas melayu dari Kota Sagu di negeri jiran tepatnya di Kuala Lumpur.


Perjalanan yang melelahkan itu memakan waktu lebih dari 12 jam untuk sampai ke lokasi acara, di Avenue Dagang Foodcourt Ampang, Kuala Lumpur Malaysia. Dimulai dari pukul 07.00 WIB dari Selatpanjang, sampai hingga pukul 20.00 waktu Malaysia (pukul 19.00 WIB).
Dengan membawa peralatan musik yang sedikit berat, belasan pemuda itu turun naik kapal, turun naik taxi dan turun naik bus, untuk sampai ke lokasi.
Setiba di lokasi, Anggota Sanggar Bathin Galang ini tidak langsung istrahat. Mereka terlebih dahulu melepas kangen dengan Jart Hassan, orang yang menawarkan Sanggar dari Desa Bokor ini untuk menampilkan karya di Malaysia. Jart Hassan yang tergabung dalam grup musik Field Players itu telah dua kali tiba di Desa Bokor.
Setelah bersembang-sembang hingga pukul 03.00 dini hari, barulah anggota Sanggar Bathin Galang mencari tempat berteduh selama di Malaysia. Dapat di daerah Ampang beberapa menit dari lokasi acara yang digelar, Minggu (26/4/2015) malam.
Sabtu (25/4/2015) pagi, usai sarapan, belasan pemuda Desa Bokor ini mengunjungi beberapa tempat bersejarah di KL. Mereka merefresh otak namun secara tak sadar menguras tenaga, karena seharian turun naik kereta commute. Hingga malam hari kembali ke home stay untuk mengistrahatkan diri dari aktivitas seharian itu.
Minggu (26/4/2015) pagi pula, setelah sarapan, dan beraktivitas di sekitar Ampang itu, Sanggar Bathin Galang memulai latihan sederhana. Di tempat sederhana pula, tepatnya di dalam kamar Homestay, sanggar ini menggelar latihan untuk nampil pada malam harinya.
Sekitar pukul 5 sore waktu Malaysia, belasan pemuda lasak dari Desa Bokor ini berangkat ke Avenue Dagang Foodcourt Malaysia untuk menampilkan persembahan terbaik ke hadapan ratusan pengunjung cafe itu. (Sekedar informasi, acara Jazz Ampang tersebut digelar di sebuah cafe).
Jart Hassan selaku pencetus Jazz Ampang, dalam penyampaiannya mengaku bahwa Jazz Ampang dimulai sejak tahun 2010 dan digelar setiap akhir bulan. Meski bernama Jazz Ampang, namun tidak dikhususnya untuk musik Jazz saja, tetapi boleh menampilkan musik bergenre apa saja. Waktu itu juga, Jart Hassan mengucapkan terima kasih kepada Sanggar Bathin Galang yang rela bersusah payah untuk menghadiri undangan nampil di Kuala Lumpur.
"Sebelum nampil, saye nak tanye tentang musik yang akan dibawakan malam ni," kata Jart Hassan waktu itu ke Sanggar Bathin Galang.
Didampingi Ketua Sanggar Bathin Galang, komposer Ronaldi yang didatangkan khusus dari Solo menjelaskan bahwa musik yang mereka bawakan diberi judul Renung, Metung, dan nak harap. Dimana, maksud dari renung dan metung adalah memandang jauh tentang harapan kedepannya yang akan diraih melalui musik. (Renung= merenung, metung= juga mempunyai maksud yang sama dengan merenung/ bahasa daerah).
"Itu (renung dan metung) merupakan bahasa lokal di Desa Bokor. Renung, metung, dan berharap,; ada harapan kami, ketika kami di sini (bermusik) semoga seni itu akan memberikan sesuatu yang baik pada kami," kata Ronaldi.
Disampaikan Ronaldi pula, musik renung metung nak harap ini lahir dari potensi alam dan beragamnya etnis dan suku masyarakat Desa Bokor. "Saya melihat Bokor kaya potensi alam, termasuk etniknya. Di sana ada Jawa, Sunda, Minang, Melayu, dan Suku Akit. Berdasar itu lah ide ini(bersama Sanggar Bathin Galang) kami diskusi, kemudian terciptalah karya yang akan kami mainkan," kata Ronal menjelaskan.
Pada malam itu pula, Sanggar Bathin Galang mendapat kesempatan tampil pertama. Dengan meng-kolaborasikan alat musik modern/ elektrik (gitar, mandolin, biola) dan tradisional (marwas dan kompang), belasan pemuda asal Indonesia ini mampu memberikan sentuhan musik yang menarik perhatian pengunjung cafe.
Ratusan pengunjung tercengang ketika satu persatu pemain musik dari Desa Bokor ini unjuk kebolehan.
Penampilan itu berjalan lebih 10 menit.
Malam itu pula, selain Sanggar Bathin Galang, juga ada penampilan dari berbagai grup musik yang datang dari Palestina, Qatar, Jakarta, dan Malaysia sendiri.
Sopandi, saat berbicara bersama wartawan mengaku ada warga Malaysia yang tertarik dengan penampilan mereka. Sanggar Bathin Galang pun sempat ditawarkan untuk mempersembahkan musik melayu di suatu tempat. Namun, setelah mengetahui bahwa sanggar ini datang dari Indonesia, akhirnya niat itu diurungkan mengingat tingginya cost yang akan dikeluarkan kalau ingin meminta Sanggar Bathin Galang nampil di Malaysia.
"Meski tidak jadi atas niat itu, tapi sudah buat kita senang. Ternyata ada warga Malaysia menyenangi musik yang kita mainkan," kata Sopandi.
Malam itu juga sanggar ini bersembang (mengobrol) dengan beberapa musisi Malaysia hingga dini hari. Mereka saling bertukar pendapat tentang perkembangan musik di masing-masing daerah yang masih serumpun itu (Melayu Malaysia dengan Riau). Sekitar pukul 02.30 waktu Malaysia, akhirnya mereka membubarkan diri dan pulan untuk beristrahat.
Senin (27/4/2015) pagi, usai sarapan, belasan pemuda dari Desa Bokor kembali ke tanah air melalui Kukup Pontian Malaysia ke TanjungBalai. Namun, karena Bus yang ditumpangi harus mengambil dan menurunkan penumpang di berbagai tempat, akhirnya setiba di pelabuhan Kukup, rombongan ini tak bisa menyeberang ke Indonesia, karena hari sudah sore dan kapal telahpun berangkat semuanya.
Rombongan memilih menginap di Cokoh Pontian, Malaysia. Hingga Selasa (28/4/2015) baru lah rombongan ini pulang ke Indonesia.
Dalam perjalanan pulang, Sopandi didampingi Viza (pencipta lagu yang pernah rekaman di Malaysia) mengaku akan terus mengembangkan musik melayu dan mempromosikan daerah (Meranti) ke Manca Negara. Mereka telah berkali-kali nampil dan membawa musik serta tarian ayak sagu khas Meranti di Malaysia.
"Ini cara kita mempromosikan Meranti, banyak hal yang bisa dilakukan. Melalui musik (melayu) kami akan perkenalkan Meranti di mata dunia," ujar Sopandi.
Disampaikan Sopandi juga, saat ini mereka tengah mempersiapkan musik garapan baru yang rencananya akan ditampilkan di Thailand, penghujung tahun 2015 ini. "Kita persiapkan segala sesuatu, karena ada tawaran untuk nampil di Thailand. Di sana kita akan terus mempromosikan apa yang kita punya di Meranti," ujar Sopandi yang diaminkan Viza.
Ketika disinggung tentang perjalanan selama 13 tahun bersam Sanggar Bathin Galang dalam ikut mempromosikan daerah, Sopandi mengaku memang banyak suka dukanya. Namun demikian, mereka bertekad apapun yang terjadi, mereka tetap mengembangkan musik Melayu yang selama ini belum terangkat secara maksimal ke permukaan dunia.
"Musik khas kita ya musik melayu. Apapun alasannya, kita harus mengembangkan musik itu agar dunia tahu bahwa (musik) Meranti ada. Semoga tekad kuat ini mendapat support dari berbagai pihak nantinya. Yang jelas kami tetap berusaha semampu kami untuk menaikkan harkat musik melayu ke kancah internasional," ujarnya lagi.
Pantauan selama ini, Desa Bokor tidak hanya keluar negeri untuk memperkenalkan Meranti melalui musik, namun juga menggelar beberapa kegiatan bertaraf internasional, seperti Bokor World Music, dan Bokor Reggae yang insyallah digelar Oktober mendatang.
Bokor Wolrd Music 2015 kemarin dihadiri beberapa pemusik ternama dari Indonesia dan Malaysia. Sementara untuk Reggae yang akan datang, telah banyak pemusik Reggae dari berbagai negara luar yang menyatakan kesiapan dirinya untuk datang ke Desa Bokor.
"Selama di Bokor, pemusik luar negeri dan luar daerah Meranti kita inapkan di rumah warga. Biar mereka membaur bersama masyarakat. Mereka juga kita suguhkan dengan potensi alam yang selama ini menghidupkan kita semua," tutur lelaki yang akrab dipanggil Atah itu.
Sekedar informasi, selain menggelar musik bertaraf internasional, Sanggar Bathin Galang juga menggelar kegiatan rutin seperti Pesta Sungai Bokor, Zapin Tradisional dan Kreasi, dan beberapa hiburan lainnya.(zal)