PEKANBARU - Warga di kawasan RW 11 dan Jalan Gurami Raya, Perumnas Rumbai, kini mengetahui penyebab pasti genangan air yang kerap merendam lingkungan mereka dan memakan waktu cukup lama untuk surut. Masalah tersebut ternyata bersumber dari bentangan pipa milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang dipasang melintang tepat di dalam saluran penghubung atau box culvert.

Fakta penyumbatan ini terungkap dengan jelas saat Anggota DPRD Kota Pekanbaru dari Fraksi PKS, Firmansyah turun meninjau lokasi bersama para petugas operasional Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Inspeksi mendadak ini dilakukan sebagai respons atas keluhan yang disampaikan oleh Ketua RW 11 setempat terkait permasalahan aliran air yang mengganggu mobilitas warga.

Kondisi nyata di lapangan memperlihatkan bahwa keberadaan pipa tersebut bertindak bak jaring yang menahan laju air. Akibatnya, material sampah rumah tangga maupun dedaunan yang terbawa arus sangat mudah tersangkut hingga akhirnya menumpuk dan menyumbat kapasitas buang pada drainase.

"Setelah ditinjau di lapangan, didapati ada pipa PDAM yang melintang di box culvert. Ini membuat sampah menumpuk dan air menjadi tertahan, sehingga lama surut," beber Firmansyah kepada GoRiau.com, Jumat (4/9/2026).

Siapkan Dua Opsi Penanganan

Menyadari kerugian yang ditimbulkan dari instalasi yang menghambat arus air tersebut, Firmansyah memastikan temuan ini telah diteruskan secara langsung kepada jajaran manajemen PDAM agar segera dibenahi. Posisi pipa tersebut diharapkan dapat secepatnya ditata ulang sehingga infrastruktur saluran pembuangan di wilayah pemukiman kembali berfungsi normal tanpa hambatan teknis.

"Hal ini sudah kami laporkan kepada pimpinan PDAM, dan kita harapkan untuk bisa segera diambil tindakan," tegasnya.

Selain mendesak penyesuaian letak instalasi pipa, tinjauan lapangan bersama Dinas PUPR tersebut turut merumuskan dua langkah teknis sebagai opsi penanganan jangka panjang bagi wilayah tersebut. Opsi pertama berupa wacana peninggian elevasi badan jalan agar terbebas dari luapan air saat hujan deras. Sementara langkah kedua berfokus pada normalisasi sistem drainase secara menyeluruh guna memastikan aliran air tidak lagi menemui hambatan berupa tumpukan sedimen maupun instalasi luar di kemudian hari. ***