MUSIBAH muncul lagi. Seekor harimau memangsa buruh yang sedang bekerja di hutan akasia milik PT Arara Abadi di Teluk Meranti, Pelalawan, Riau, Jumat kemarin.

Pagi jelang siang itu Abdul Susanto sedang menyemprot gulma bersama dua temannya di hutan tanaman industri (HTI) tersebut. Siapa nyana, tiba-tiba datang seekor harimau menyerangnya dari belakang. Susanto tak sempat mengelak dan menyemprot harimau dengan racun ilalang yang disandangnya.

Ia berteriak keras saat si raja hutan itu hendak mencabik-cabik tubuhnya. Dua teman yang mendengar segera datang mengusir. Susanto selamat, kendati luka-luka berdarah di sekujur tubuh.

Bukan baru kali ini musibah seperti itu terjadi. Banyak pekerja di kebun sawit dan usaha pemanfaatan hasil hutan lainnya yang sudah jadi korban. Tak hanya oleh harimau, tapi juga gajah. Prinsip siapa kuat yang menjadi raja berlaku di sini.

Susanto semata mencari makan di sana dengan menjadi buruh kontraktor di perusahaan HPH itu. Ia jauh-jauh merantau dari Lampung agar bisa hidup layak.

Namun si belang ini juga sedang mencari makan. Mungkin sudah sejak malam dia mengincar buruan seperti rusa, kancil, atau babi hutan. Namun semuanya sudah sulit ditemukan akibat hutan sudah porakporanda sekian lama. Apalagi babi hutan sebagai salah satu rantai makanannya.

Maklum, sejak munculnya para pemburu babi dari Sumatera Utara, populasi babi menjadi semakin menyusut. Betapa tidak, hanya bermodalkan kabel kopling bekas sepedamotor, sudah bisa dijadikan sebagai jerat babi yang ampuh. Seorang penjerat bisa mendapatkan sampai lima ekor babi dalam sehari. Hasil buruan tersebut dikirim ke Medan dan Siantar. Di provinsi tetangga ini banyak yang lebih suka babi hutan ketimbang babi biasa.

Rusaknya habitat satwa akibat datangnya petani sawit dari mana-mana membuat harimau, gajah dan binatang hutan lainnya menjadi kesulitan mencari makan. Gajah kini sering memasukkan belalainya ke dapur rumah petani untuk mencari makanan. Beras pun mereka makan seenaknya. Pucuk sawit yang sebenarnya bukan makanan gajah, kini sering dilalap habis. Akibatnya sawit rusak bahkan bisa mati.

Harimau juga begitu. Rantai makanan mereka telah terputus dengan terjadinya kerusakan hutan. Terbakarnya hutan juga menyebabkan aneka satwa kehilangan tempat bersembunyi.

Harimau terpaksa keluar menuju tempat terbuka yang sudah banyak diisi manusia. Sudah sulit mencari babi hutan, rusa, dan hewan lainnya, mau tak mau mereka pun terpaksa memangsa manusia. Itulah hukum rimba.

Tekad pemerintah untuk mengembalikan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) sebagai habitat hewan dan tumbuhan memang menjadi salah satu jalan keluar mengatasi masalah ini. Apalagi satuan tugas (Satgas) yang dibentuk tak segan-segan melakukan penertiban yang boleh dikatakan kontroversial.

Para penanam sawit disuruh meninggalkan lahan, dengan janji akan direlokasikan ke tempat lain. Kebun sawit yang sudah diserahkan lalu dimusnahkan, dan ditanami kembali dengan tumbuhan hutan. Sudah sekitar 5.000 hektare yang dibebas kan. Namun, areal TNTN seluas 80 ribu hektare itu sudah sekitar 80 persen ditanami sawit. Jadi masih butuh waktu yang panjang mengembalikan TNTN sebagai habitat hewan dan tanaman.

Hingga kini memang belum jelas bagaimana realisasi dari relokasi yang dijanjikan pemerintah. Sampai muncul tudingan pemerintah takut kepada tekanan internasional, hingga tega menekan bangsa sendiri.

Selama ini memang sudah menjadi semacam cibiran tentang semua heboh saat menemukan gajah atau harimau mati dibunuh manusia. Sementara kalau manusia mati dibunuh kedua satwa ini, ceritanya habis sampai di situ saja.

Untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan binatang dan tumbuhan, memang sudah tepat langkah yang dilakukan pemerintah. Rumah untuk binatang diperbaiki lagi seperti semula. Agar mereka tak masuk ke rumah manusia. ***

* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru, Riau.