
JAKARTA - Perubahan reputasi Lionel Messi dari sosok idola menjadi pihak yang banyak mendapat sentimen negatif pada Piala Dunia 2026 menjadi sorotan. Fenomena ini dibedah oleh akun pengamat pola percakapan, @Therosieum, yang menganalisis bagaimana manajemen narasi digital membalikkan citra sang pemain dalam waktu singkat.
Pada 2022, kurva sentimen positif pemain asal Argentina tersebut berada di titik tertinggi dengan tingkat pemujaan dari publik. Namun, memasuki 2026, grafik tersebut menunjukkan penurunan sehingga mayoritas sentimen mencapnya sebagai pihak yang bersalah di lapangan hijau. Berdasarkan analisis data percakapan tersebut, pembalikan citra ini tidak terjadi secara organik, melainkan berkaitan dengan teori opini publik Walter Lippmann (1922) yang menyebutkan bahwa opini sering kali terbentuk dari gambaran di kepala orang lain, bukan murni dari realitas objektif.
Selama bertahun-tahun, citra Messi dibangun dalam bingkai tak berwujud, menyerupai bakat alam yang tanpa cela. Pendekatan strategi ini berbeda dengan rivalnya, Cristiano Ronaldo. Sejak awal kariernya, pemain asal Portugal itu dicitrakan secara nyata sebagai sosok atletis yang juga memiliki batasan emosional, namun mampu mencapai prestasi berkat dedikasi di tempat latihan. Kesempurnaan citra yang disematkan kepada Messi dinilai menjadi titik rentan ketika narasi negatif mulai bergulir pada turnamen tahun ini.
Operasi pembentukan narasi ini memiliki beberapa tahapan yang terukur. Tahap pertama melibatkan penyajian fakta yang disajikan secara sepotong-sepotong. Insiden saat ia menginjak kaki pemain Aljazair yang luput dari sanksi kartu merah wasit, digabungkan dengan kompilasi video masa lalu berisi tekel keras kepada pemain lawan. Rangkaian visual ini memunculkan wacana yang menyebut dirinya sebagai anak emas organisasi sepak bola dunia atau FIFA.
Pembicaraan tersebut kemudian bergeser ke arah sentimen di luar lapangan setelah Argentina mengalahkan Mesir pada babak 16 besar. Narasi publik meluas dengan mengaitkan tim nasional tersebut dengan Israel. Hal ini dipicu oleh pengibaran bendera Israel dari pendukung Argentina yang memprovokasi pelatih Mesir, Hossam Hassan, serta peredaran potongan video lama terkait dukungan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kepada negara Amerika Selatan itu.
Fase selanjutnya melibatkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Gelombang konten yang dihasilkan oleh perangkat digital ini mempercepat produksi video yang melabelinya berbuat curang serta berafiliasi dengan kepentingan politik. Akibatnya, sentimen publik netral berbalik arah secara tajam.
Situasi ini bertolak belakang dengan personal branding Ronaldo yang sejak awal menjadikan pro dan kontra publik sebagai fondasi kariernya di tengah era algoritma media sosial yang mementingkan interaksi pengguna. Data serta dokumentasi portofolio karier Messi sejak usia muda memang tercatat secara autentik. Walaupun demikian, arus informasi digital telah membentuk persepsi yang berbeda di mata audiens.
Para pendukungnya kini terus berhadapan dengan badai sentimen negatif. Fenomena polarisasi publik ini sejalan dengan salah satu pandangan masa lampau terkait validasi diri.
"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu," pesan Ali bin Abi Thalib dalam salah satu petuahnya.***