
PEKANBARU – Program reboisasi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo kembali menuai perhatian. Tokoh adat Pelalawan, Dr T Edy Sabli, MSi, menegaskan upaya pemulihan hutan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial tanpa pengawasan dan keberlanjutan yang jelas.
Edy Sabli yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau mengingatkan pengalaman masa lalu terkait penanaman mangrove yang pernah dilakukan mantan Presiden RI, Joko Widodo. Menurutnya, kegiatan tersebut kini tidak lagi meninggalkan jejak yang jelas.
“Reboisasi jangan hanya menjadi simbol atau pencitraan. Harus ada kesinambungan dan pengawasan nyata,” ujarnya, Senin (12/1/2026).
Meski demikian, ia menyatakan dukungannya terhadap program reboisasi TNTN yang saat ini digalakkan pemerintah pusat dan daerah. Namun, ia menilai pemerintah terlambat dan lalai menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan TNTN, yang selama bertahun-tahun mengalami alih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.
“Perubahan hutan menjadi sawit bukan proses instan. Sejak awal penanaman sampai sawit produktif, semua pihak tahu. Artinya, ada pembiaran cukup lama,” ungkapnya.
Ia menilai negara selama ini terkesan menutup mata terhadap praktik kejahatan lingkungan di kawasan TNTN. Karena itu, Edy berharap Tim Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang melibatkan kejaksaan, TNI-Polri, serta unsur terkait lainnya dapat bekerja maksimal mengawal reboisasi agar benar-benar substansial.
Lebih lanjut, Edy mendorong pelibatan masyarakat adat setempat dalam seluruh tahapan reboisasi, mulai dari penanaman, pemupukan, hingga perawatan. Keterlibatan tersebut dinilainya penting untuk menumbuhkan rasa memiliki sekaligus menjamin keberlanjutan hasil pemulihan hutan.
Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Riau selaku Ketua Tim PKH atas komitmen mendukung reboisasi TNTN. Ia berharap pemulihan hutan tidak hanya dilakukan di permukaan, tetapi menjangkau hingga ke bagian terdalam kawasan.
“Dampaknya harus bisa dirasakan 10 hingga 20 tahun ke depan, bukan hanya terlihat indah sesaat,” pungkasnya. ***