PEKANBARU – Ratusan mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Riau, Jalan Jenderal Sudirman, Kamis (11/6/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan berbagai persoalan nasional yang dinilai semakin membebani masyarakat, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kenaikan harga BBM non-subsidi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Massa aksi yang terdiri dari berbagai organisasi mahasiswa dan perwakilan fakultas mulai memadati kawasan DPRD Riau sekitar pukul 12.30 WIB. Mereka membawa spanduk, poster, dan karton berisi kritik serta tuntutan kepada pemerintah pusat.

Dalam orasinya, para mahasiswa mempertanyakan efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Menurut mereka, pelaksanaan program tersebut belum sepenuhnya tepat sasaran dan berpotensi membuka ruang penyimpangan dalam pengelolaan anggaran.

Selain MBG, mahasiswa juga menyoroti keberadaan Koperasi Merah Putih yang dinilai belum menunjukkan hasil nyata. Mereka menilai program tersebut masih menyisakan berbagai persoalan dalam implementasinya di sejumlah daerah.

Kondisi ekonomi nasional turut menjadi perhatian para demonstran. Massa mengkritik melemahnya nilai tukar rupiah yang dinilai berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Mereka juga menyinggung janji pemerintah terkait penguatan rupiah yang hingga kini belum terlihat hasilnya.

Kenaikan harga BBM non-subsidi dan sejumlah kebutuhan pokok turut menjadi sorotan. Menurut mahasiswa, lonjakan harga berbagai komoditas semakin memperberat beban ekonomi masyarakat di tengah kondisi yang masih penuh tantangan.

"Jika Pak Prabowo tidak paham dengan kebutuhan rakyatnya, lebih baik silakan mundur dari jabatannya," tegas salah seorang orator saat menyampaikan aspirasi di depan gerbang DPRD Riau.

Aksi sempat diwarnai ketegangan ketika massa berusaha mendekati area gedung DPRD Riau dan mendesak agar pimpinan dewan turun langsung menemui mereka. Dorong-dorongan antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang berjaga tidak terhindarkan, meski situasi akhirnya berhasil dikendalikan.

Mahasiswa awalnya bersikeras ingin menyampaikan aspirasi dan berdiskusi langsung di dalam gedung DPRD Riau. Tak lama kemudian, tiga anggota DPRD Riau yakni H. Edi Basri, SH, MSi, Abdullah, dan Sumardany menemui massa aksi.

Pertemuan tersebut sempat diwarnai perdebatan antara koordinator lapangan aksi dengan anggota dewan. Massa tetap meminta agar dialog dilakukan di dalam gedung DPRD sebagai bentuk penghormatan terhadap aspirasi yang mereka bawa. Namun setelah melalui diskusi yang cukup alot, dialog akhirnya dilaksanakan di halaman Kantor DPRD Riau.

Dalam kesempatan itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah pusat, sementara anggota dewan berupaya menampung serta menjelaskan mekanisme penyampaian aspirasi melalui lembaga legislatif.

Hingga berita ini ditulis, aksi unjuk rasa masih berlangsung. Secara bergantian, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), organisasi kemahasiswaan, serta perwakilan fakultas dan jurusan menyampaikan orasi yang berisi kritik dan tuntutan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat.

Aksi mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian guna memastikan jalannya demonstrasi tetap berlangsung aman, tertib, dan kondusif. ***