
JAKARTA - Penemuan sesosok jenazah yang terdampar di Desa Kahyapu, pesisir Pulau Enggano, Bengkulu akhirnya memberikan kepastian di tengah pencarian hilangnya kapal cepat Arupadhatu 1. Berdasarkan pencocokan data ante mortem delapan korban, Pusdokkes Polri memastikan jasad tersebut memiliki kecocokan visual dan ciri fisik dengan Surakman, salah satu kru kapal yang hilang di Selat Sunda sejak Selasa (7/9/2026).
Kepastian identitas jenazah yang ditemukan sekitar 380 kilometer dari titik awal rombongan ini disampaikan langsung melalui konferensi pers di Markas Polda Banten, Serang, Rabu (23/9/2026). Pengumuman tersebut turut dihadiri Gubernur Banten, Andra Soni bersama Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki dan Kakansar Banten, Al Amrad.
Sebelum temuan krusial ini, upaya pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal belum membuahkan hasil nyata. Tim gabungan awalnya memfokuskan penyisiran jalur keberangkatan dari arah Carita menuju kawasan Gunung Anak Krakatau beserta pulau-pulau di sekitarnya.
Fase awal pencarian dibagi menjadi lima kelompok atau Search and Rescue Unit (Sru). Sru pertama menyisir area 68 NM menggunakan KN SAR Tetuka, sementara Sru kedua menjangkau 69 NM dengan kapal KAL Anyer milik TNI AL. Sru ketiga dari Basarnas Lampung bergerak memantau area 67 NM memakai RIB 01 dan 03, dibantu Sru kelima yang menggunakan KP Sanjaya milik Polairud Polda Banten dengan jarak pencarian 67 NM.
"Untuk pencarian kita perluas," terang Kasie Ops Basarnas Banten, Riski Dwi, Rabu (9/9/2026).
Di tengah penyisiran, kapal KAL Anyer sempat menemukan sebuah pelampung berwarna oranye (life jacket) dan buoy, Kamis (10/9/2026). Tim SAR selanjutnya juga mendapati dua pelampung lain, sebuah helm proyek, dan jeriken, meskipun benda-benda tersebut belum bisa dipastikan sebagai inventaris Arupadhatu 1.
Memasuki hari ketujuh, cuaca mulai tidak bersahabat. Kecepatan angin menyulitkan Sru yang menggunakan KN SAR Basudewa dari Basarnas Lampung saat menyisir kawasan Teluk Semangka hingga Pulau Tabuan. Keputusan memperpanjang masa operasi selama tiga hari pun diambil, hingga Kamis (17/9/2026).
Pengerahan maksimal dilakukan pada hari kesepuluh. Sebanyak 24 kapal diturunkan untuk menyisir area yang diperluas menjadi 8.508 mil laut persegi yang terbagi dalam 10 sektor. Armada ini meliputi delapan kapal TNI AL, delapan kapal Polairud, tujuh kapal Basarnas, dan satu kapal KPLP, ditambah penyisiran darat di sepanjang pesisir Carita hingga Pantai Anyer. Opsi pemantauan udara dengan helikopter terpaksa dikesampingkan akibat halangan angin dan debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
"Aturan kami di Basarnas ini, operasi SAR tujuh hari, ketujuh juga kita lakukan pencarian tidak ada tanda-tanda, objek juga, tadi sudah disampaikan Polair dan TNI AL juga. Kalau kami mengacu pada peraturan kami tersebut, seharusnya kita sudah closed," jelas Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, Kamis (17/9/2026), seraya menegaskan operasi bisa dibuka kembali jika ada temuan baru. ***