
PEKANBARU – Guru Besar Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Qasim (UIN Suska) Riau Prof Dr H Muhammad Syaifuddin, SAg, MAg, mengajak umat Islam menjadikan Hari Raya Idul Fitri sebagai momentum untuk meraih kesucian diri sebagai hamba Allah dalam rangka meraih keridhoan-Nya. Kesucian diri yang telah diperoleh harus kita pertahankan dengan cara melestarikan nilai-nilai Ramadhan pasca Idul Fitri.
Hal ini disampaikan HM Syaifuddin dalam khutbahnya ketika menjadi khatib shalat Idul Fitri 1446 H di Masjid Fathu Jannatil Firdaus Pondok Pesantren Al-Faruqi, Jalan Kubang Raya, Kecamatan Tambang, Kampar, Senin (31/3/2025).
Dikatakannya, merayakan Idul Fitri merupakan sunnah agama yang diwariskan Rasulullah SAW kepada sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in sampai kepada kita. "Kesucian diri yang telah kita peroleh harus kita pertahankan dengan cara melestarikan nilai-nilai Ramadhan pasca Idul Fitri," kata Syaifuddin.
Menurut guru besar Ilmu Manajemen Pendidikan ini, nilai-nilai Ramadhan yang harus kita pertahankan pasca Idul Fitri itu, meliputi shiyam al-Ramadhan (berpuasa), tarawih, membaca Al Quran, iktikaf di masjid/mushalla, membayar zakat fitrah dan zakat mal, serta bersilaturrahmi dengan saling memaafkan setelah shalat Idul Fitri.
Berpuasa mengajarkan kita memiliki pengendalian diri dari hal-hal yang dilarang agama. Implikasi dari sikap ini, kata Syaifuddin, adalah lahirnya integritas pribadi terutama bagi aparatur negara untuk menjalankan pemerintahannya yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Bagi masyarakat diharapkan lahirnya pribadi-pribadi yang mampu hidup sederhana, apalagi dengan kebijakan pemerintah terkait dengan efisiensi pada saat ini.
"Tarawih mengajarkan kita untuk memiliki sikap “taqarrub” (mendekatkan diri) kepada Allah. Implikasi dari sikap ini adalah lahirnya pribadi yang senantiasa menjadikan Allah sebagai tempat menggantungkan harapan dan asa," ungkap Syaifuddin.
Sedangkan dari membaca Al Quran, lanjut Syaifuddin, mengajarkan sebuah cara untuk berkomunikasi dan berdialog dengan Allah melalui firman-Nya yang termaktub dalam kitab suci Al Quran. "Implikasi dari sikap ini adalah lahirnya pribadi yang senantiasa menjadikan Al Quran sebagai solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup yang dihadapinya yang akan membawanya kepada jalan petunjuk," kata Syaifuddin.
Sementara implikasi dari iktikaf di masjid/mushalla adalah pribadi yang senantiasa melakukan auto kritik (kritik terhadap diri sendiri), bukan senang untuk mengkritik orang lain, dalam rangka meraih kebaikan diri.
"Dari zakat fitrah dan zakat mal kita diajarkan untuk memiliki kepedulian sosial kepada kaum yang lemah. Dengan membayar zakat, pada hakikatnya kita mensucikan diri dan harta kita. Implikasi dari sikap ini adalah lahirnya pribadi yang senantiasa memiliki sense of crisis terhadap lingkungan sekitarnya sehingga tidak akan terjadi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin," sebut Syaifuddin.
Sikap hidup lainnya yang harus dilestarikan pasca Idul Fitri adalah silaturahmi. Saling memaafkan setelah shalat Ied mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah yang didasari oleh rasa cinta yang mendalam.
"Hal ini sejalan dengan pesan Menteri Agama RI Bapak Prof Nasaruddin Umar, yaitu “Kurikulum Cinta” yang harus menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Implikasi sikap ini adalah lahirnya pribadi yang senantiasa mampu bekerja sama dengan orang lain terutama dalam mewujudkan sebuah komunitas yang baik. Pada hakikatnya keberhasilan komunitas bukan tergantung pada individu, tetapi pada kelompok," ujar calon Rektor UIN Suska Riau masa jabatan 2025-2029 ini.
Di akhir khutbahnya, Syaifuddin berharap semoga nilai-nilai agung yang diajarkan Ramadhan tersebut dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. "Pada akhirnya kita berharap dan berdoa kepada Allah SWT agar dapat dipertemukan lagi dengan Ramadhan yang akan datang. Aamiiin Ya Rabbal Alamin," katanya. ***