PEKANBARU - Pilkada Indragiri Hulu menjadi Pilkada yang paling banyak memunculkan kandidat, yakni lima kandidat. Hal ini tentunya menarik perhatian sejumlah pengamat politik, apalagi dua diantaranya merupakan keluarga dekat Bupati Inhu, Yopi Arianto.

Dua orang itu ialah Rezyta Meylani yang merupakan istri dari Yopi, Rezyta akan maju di Pilkada dengan perahu Golkar dan Nasdem didampingi Djunaedi Rahmat. 

Kemudian satu orang lagi adalah Agus Rianto yang merupakan paman Yopi, terakhir menjabat Sekdakab Inhu. Agus Rianto akan maju di Pilkada mendampingi Siti Aisyah. Mereka diusung oleh Gerindra, PPP, Berkarya dan PKPI.

Menanggapi hal ini, Pengamat Politik Riau, Tito Handoko menilai peluang Rezyta sangat besar karena dia merupakan representasi dari Yopi yang sampai hari ini masih menjabat sebagai Bupati.

Sementara Agus Rianto, walaupun merupakan paman Yopi, hubungan keduanya tidak sejalan. Buktinya, Agus dinonjobkan dari jabatan Sekda di periode kedua Yopi.

"Istri Yopi masih berpeluang karena posisi Yopi saat ini. Mungkin yang bisa mengimbanginya hanya Wahyu Adi - Supriati," kata Dosen Fisip UR ini kepada GoRiau.com, Minggu (13/9/2020).

Hal ini dikarenakan melihat background Wahyu Adi dan Supriati. Wahyu Adi sendiri merupakan pensiunan polisi dan background keluarga besarnya sudah cukup mengakar di Inhu. Didukung oleh Supriati yang merupakan kader lama di Partai Golkar.

"Rekam jejak Wahyu Adi sebagai Kapolsek dan Kapolres secara tidak langsung sudah menciptakan jejaring kelembagaan, dia pasti sudah paham bagaimana peta geopolitik di Inhu, dia pasti sudah punya pertimbangan matang sebelum memutuskan maju," tuturnya.

Disamping itu, Wahyu Adi - Supriati juga disupport oleh banyak partai, yakni PAN, Perindo, PDIP dan Demokrat. Secara struktural, Wahyu Adi - Supriati sudah memiliki jejaring sampai tingkat bawah.

Golkar Inhu, lanjut Tito, saat ini juga sedang berada dalam kondisi deadlock usai Musda Golkar Inhu yang terhenti karena ada kericuhan. Artinya, upaya konsolidasi istri Yopi akan sedikit terhambat.

Ditambah lagi, Rezyta bukan kader Golkar dan sepak terjangnya dalam hal leadership juga belum teruji. Bahkan, sebagai Ketua PKK, Rezyta belum bisa menciptakan gebrakan yang mengangkat namanya.

Kekuatan Rezyta, jelasnya, hanya bertumpu pada kekuatan Yopi yang nantinya bisa memobilisasi semua sumber daya yang ada. 

"Dari segi dukungan Parpol, Wahyu Adi - Supriati jelas lebih diunggulkan dibanding Paslon lain, apalagi yang independen. Mereka akan sulit membuat struktur sampai ke bawah," ujarnya.

Disinggung mengenai kekuatan Rizal Zamzami - Yoghi Susilo, menurut Tito, tidak akan terlalu berpengaruh karena modal 'partai islam' tidak akan berlaku, sebab yang maju semua adalah muslim. Sehingga, politik identitas akan sulit diterapkan di Inhu.

Inhu sendiri dalam pandangan Tito, adalah daerah yang cukup heterogen dan kondisi masyarakat sangat dinamis 

"Inhu itu sangat heterogen, keterbukaan informasi dan sistem demokrasi membuat politik identitas tidak terlalu berpengaruh. Walaupun faktor politik identitas tidak bisa dikesampingkan, tapi persentasenya saya rasa tidak akan besar," imbuhnya.

"Tapi yang namanya Bakal Calon pasti masing-masing punya optimisme tinggi, tapi dengan melihat faktor tadi, mulaibdari modal sosial, modal finansial, modalitas politik. Wahyu Adi - Supriati yang bisa mengimbangi kekuatan Yopi. Kecuali, ada tsunami politik yang membuat peta berubah," tutupnya.


Berikut nama-nama peserta Pilkada Inhu: 

dr. Nurhadi - Toni Sutianto (Independen)

Siti Aisyah - Agus Rianto (Gerindra, PPP, Berkarya, dan PKPI)

Wahyu Adi - Supriyati (PDIP, PAN, Demokrat, dan Perindo)

Rizal Zamzami - Yoghi Susilo (PKB dan PKS)

Rezyta Meylani - Junaidi Rachmat (Golkar dan Nasdem).***