
KAMPAR – Petani di Kabupaten Kampar, Riau diingatkan agar waspada terhadap maling sawit, di tengah melesatnya harga tandan buah segar (TBS) sawit.
Beberapa pekan belakangan harga TBS kelapa sawit memang melesat naik membuat petani kecil tersenyum bahagia. Apalagi yang selama ini menggantungkan nasib ke kebun sawit.
Bagi petani kecil, kenaikan harga sawit dirasakan saat pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Petani kecil diklasifikasikan dengan luas kebun sawit hanya 2 hektare.
Seperti dirasakan petani yang tergabung dengan Koperasi Unit Desa Sawit Jaya Unit Usaha Otonom (UUO) Petapahan Kecamatan Tapung. Satu di antara anggotanya adalah Helmi yang juga pengurus di koperasi ini.
Helmi mengakui, kenaikan harga sawit dirasakan dampaknya oleh anggota koperasi. Penerimaan anggota dari hasil produksi yang diterima anggota setiap bulan meningkat.
"Bagi anggota yang hanya mengharapkan hasil kebun, untuk makan sehari-hari amanlah," kata Helmi.
Ia menambahkan, berbeda dari kondisi ketika harga sawit rendah yang untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari saja masih sulit.
Helmi menyebutkan, tiap anggota atau kapling kebun dibagi 1,75 hektare. Koperasi yang memiliki kebun seluas 1.000 hektare lebih ini memiliki 600-an anggota.
Beberapa anggota hanya menumpangkan nasib kepada 1,75 hektare itu. Ada juga anggota yang memiliki kebun sawit pribadi di lokasi lain, berstatus sebagai karyawan perusahaan hingga Aparatur Sipil Negara (ASN).
"Bagi yang memang mempunyai penghasilan di luar hasil koperasi, pasti (kenaikan harga sawit) lebih terasa," ujar Helmi. Berlaku kelipatan hasil berdasarkan luas kebun sawit.
Menurut Helmi, besar kecilnya peningkatan penghasilan karena harga sawit naik tergantung beberapa faktor. Misalnya saat masa pemupukan, penghasilan akan berkurang. Apalagi harga pupuk naik seperti sekarang.
"Pas jumpa masa pemupukan, pasti penghasilan berkurang," ujar Helmi. Sebaliknya, jeda masa pemupukan dalam sekitar tiga bulan, penghasilan akan bertambah.
Tetapi bertambahnya penghasilan, sangat dipengaruhi jumlah produksi TBS. Ia mencontohkan, naiknya harga sawit sekarang berbarengan dengan turunnya produksi (lebih populer dikenal dengan istilah buah trek).
Sementara itu, Kepala Desa Petapahan Kecamatan Tapung, Said Abdullah Usman memiliki keresahan atas naiknya harga sawit. Meski pada prinsipnya, ia merasakan perekonomian masyarakat di desanya menggeliat.
"Harga sawit naik, tentu membawa dampak baik bagi perekonomian masyarakat," kata Said.
Menurut dia, masyarakat Petapahan mayoritas petani sawit. Said mengatakan, naiknya harga sawit diikuti naiknya harga kebutuhan sehari-hari.
"Bagi petani sawit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, jadi terbantu karena sawit naik," katanya.
Menurut dia, berbeda dengan yang dirasakan oleh masyarakat bukan petani sawit. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari lebih memberatkan mereka.
Said mengingatkan masyarakatnya di tengah kenaikan harga sawit. Ia menuturkan, kenaikan harga sawit bisa memancing aksi pencurian.
"Soalnya harga sawit mahal. Jadi bisa ada pencurian," ujar Said. Oleh karena itu, ia berpesan agar masyarakat waspada.***