PEKANBARU, GORIAU.COM - Perusahaan besar tak mungkin membakar untuk mengolah lahannya. Menurut  Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al Azhar, mereka taat dengan aturan main yang ditetapkan oleh pemerintah.

"Semisal RAPP, tak mungkin dia membakar lahan. Yang patut kita cegah itu mereka yang punya lahan sepetak dua petak dan yang belum mengerti dengan aturan atau malah tak peduli dengan aturan," kata Al Azhar saat menjadi pembicara pada seminar dan deklarasi Riau Merdeka Asap, Selasa, (8/9) di Pustaka Wilayah.

Al Azhar menyoroti kebakaran lahan dan hutan ini tak lepas dari cepatnya laju migrasi. Menurutnya, tekanan populasi oleh migrasi yang uneducate cukup besar. Sehingga mereka memanfaatkan lahan-lahan yang ada dengan caranya sendiri termasuk membakar.

"Kearifan lokal dimasukkan seperti apapun tidak akan masuk," ujarnya

Sementara pembicara dari perusahaan, disampaikan Djarot Handoko, Manager Corporate Communication RAPP, menyampaikan tentang program perusahaannya yang telah dilakukan untuk pencegahan Karlahut. Program desa bebas api yang dijalankan, menurutnya cukup efektif untuk mencegah kebakaran di areal operasi perusahaannya.

"Kami sudah jalankan 9 desa bebas api. Program ini kami memberikan bantuan kepada masyarakat yang akan membuka lahan tanpa harus membakar. Jika desa itu bebas dari kebakaran lahan, maka kita akan memberikan bantuan 100 juta dalam bentuk program," paparnya. "Kalau memang ini baik silahkan untuk diadopsi," ajaknya menambahkan.

Acara yang ditaja Forum Mahasiswa Anti Asap Provinsi (MAAP) Riau bersama Bluegreen Foundation, telah melahirkan kesepakatan penyelesaian pencegahan Karlahut di Provinsi Riau secara masif. KEsepakatan itu dituangkan dalam piagam deklarasi Riau MErdeka Asap.

Selain itu dalan kegiatan ini juga menghadirkan pembicara lain dari Badan Lingkungan Hidup (BLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau, akademisi dan perwakilan dari kementerian KehutanAN dan Lingkungan Hidup (KLH). (rls)