
PEKANBARU, GORIAU.COM - Program peremajaan perkebunan sawit di Riau stagnan. Kondisi ini terjadi karena Perbankan Riau kurang responsif terhadap kredit revitalisasi sawit melalui program Pengembangan Energi Nabati Revitalisasi Perkebunan (PENRP) yang sudah dijamin pemerintah.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Zulher MS kepada wartawan, Kamis (22/11/2012) mengatakan, jumlah kebun yang harus direvitalisasi semakin hari semakin banyak, karena memang, pengembangan perkebunan sawit di Riau sudah dimulai 20-25 tahun lalu.''Semakin hari semakin banyak kebun sawit yang harus direvitalisasi, namun sampai sekarang pihak Perbankan di Riau belum memberikan kepastian. Sudah beberapa kali digelar rapat antara petani, perusahaan, Bank Indonesia dan Perbankan Riau yang dijembatani oleh Dinas Perkebunan, namun belum membuahkan hasil. Bank-bank masih menunggu kebijakan pusat,'' ujar Zulher.Dari 14 bank yang sudah disetujui pemerintah untuk menyalurkan kredit revitalisasi sawit melalui program Pengembangan Energi Nabati Revitalisasi Perkebunan (PENRP), termasuk Bank RiauKepri, tak satu pun yang merealisasikan kredit bersubsidi itu.''Kita pesimis bisa terealisasi tahun ini karena Perbankan masih ragu-ragu, Dari beberapa persyaratan sebenarnya sudah ada beberapa perkebunan yang memberikan jaminan (avalis) terhadap plasma, namun kenyataannya realisasi belum ada, belum ada titik terang, karena harus menunggu persetujuan kantor pusat masing-masing bank,'' jelasnya. (rdi)