MESKI memimpin negeri yang sangat luas, Khalifah Umar bin Khattab hidup sangat sederhana. Kesederhanaan Umar bin Khattab ini menyebabkan seorang pendeta Yahudi memeluk Islam. Berikut kisahnya.

Dikutip dari Islampos.com, seorang pendeta Yahudi yang tinggal di Madinah, pada suatu ketika ingin mengadu kepada Khalifah Umar bin Khattab. Maka, pergilah pendeta Yahudi tersebut ke Madinah, yang menjadi pusat kekhalifahan ketika itu.

Pendeta Yahudi ini belum pernah bertemu Umar bin Khattab dan tidak tahu di mana kediaman sang khalifah di Madinah.

Setibanya di Madinah, pendeta Yahudi itu bertanya kepada seseorang. ''Di manakah istana raja negeri ini?''

Orang itu menjawab, ''lepas shalat Zuhur nanti, ia akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat pohon kurma. Jika kau ingin menemuinya, pergilah ke tempat itu.''

Orang Yahudi itu membayangkan, istana sang khalifah pasti sangat besar dan megah, dikelilingi kebun kurma yang rindang sebagai tempat berteduh, perintang-rintang waktu.

Ketika tiba di depan masjid, ia kebingungan. Sebab, di situ tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma, tetapi cuma sebatang saja.

Di bawah pohon kurma itu tampak seorang lelaki kekar dengan jubah yang sudah lusuh, tengah tidur-tiduran.

Orang Yahudi itu mendatanginya dan bertanya, ''Maaf, saya mau berjumpa dengan Umar bin Khattab.''

Sambil bangkit dan tersenyum Umar bin Khattab menjawab, ''Akulah Umar bin Khattab.''

Pendeta Yahudi itu terbengong-bengong, ''Maksud saya, Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini.''

Umar bin Khattab menegaskan, ''Akulah Khalifah, pemimpin negeri ini.''

Pria Yahudi itu makin kaget. Mulutnya terkatup rapat, tidak bisa bicara. Ia membandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba gemerlapan dan para raja yang istananya sangat megah.

Sang pendeta Yahudi itu membatin, sungguh tidak masuk akal, kalau ada seorang pemimpin dari suatu negara yang begitu besar, tempat istirahatnya hanya di atas selembar tikar, di bawah pohon kurma, di tengah langit yang terbuka.

''Di manakah istana Tuan?'' tanya sang Yahudi.

Umar bin Khattab menunjukkan tangannya ke suatu arah, ''di sudut jalan itu. Bangunan nomor tiga dari yang terakhir, kalau yang kau maksudkan adalah kediamanku.''

''Maksud Tuan, yang kecil dan kusam itu?'' orang Yahudi itu tambah keheranan.

''Ya. Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada dalam hati yang tenteram dengan ibadah kepada Allah SWT,'' sambung Umar bin Khattab, sembari tetap tersenyum.

Orang Yahudi itu kian tertunduk. Kedatangannya yang tadinya hendak melampiaskan kemarahan dan tuntutan-tuntutan, berubah menjadi ketakjuban dan kepasrahan dengan segenap jiwa raga.

Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, ''Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya meyakini kebenaran agama Islam. Izinkah saya memeluk Islam sampai mati.''

Setelah mengikrarkan syahadat, orang itu akhirnya pergi dengan dada dipenuhi suka cita.

Umar bin Khattab memperhatikan sang mualaf itu pergi. Tentunya, juga dengan hati yang penuh suka cita.***