PEKANBARU - Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Riau sangat prihatin dan mengecam adanya penangkapan dan penahanan 8 (delapan) tokoh dan pejuang KAMI oleh aparat kepolisian.

8 tokoh itu antara lain atas nama Dr. Anton Permana, Jumhur Hidayat, Dr. Syahganda Nainggolan, dan beberapa aktivis dari Jejaring KAMI Medan. 

Komite Hukum dan Advokasi KAMI Riau, Ali Husin Nasution menilai tindakan yang dilakukan oleh aparat yang berwenang tersebut sebagai tindakan represif dan tidak mencerminkan peran dan fungsi Polri sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat sebagaimana Sumpah Anggota Kepolisian RI yakni Pedoman Hidup Tri Brata dan Pedoman Kerja Catur Prasetya.

Penangkapan Tokoh dan Pejuang KAMI, khususnya Dr. Syahganda Nainggolan, jelas Ali, jika dilihat dari dimensi waktu, dasar Laporan Polisi 12 Oktober 2020 dan keluarnya Sprindik 13 Oktober 2020 dan penangkapan dilakukan beberapa jam kemudian.

Polisi juga membuka nama lengkap dan identitas seseorang yang ditangkap, menunjukkan bahwa Polri tidak menegakkan prinsip praduga tak bersalah (presumption of innocence), yang seyogya harus diindahkan oleh Lembaga Penegak Hukum/POLRI. 

Bahwa ke-8 Tokoh dan Pejuang KAMI tersebut adalah orang-orang yg mempunyai integritas tinggi, idealisme dan nasionalisme, peduli terhadap kemajuan Negara Indonesia.

"Tindakan kepolisian yang menangkap dan menahan ke 8 tokoh tersebut adalah sangat membuat hati miris dan ironis di sebuah Negara Hukum," kata Ali dalam rilis tertulis yang diterima GoRiau.com, Kamis (15/10/2020).

Penangkapan Tokoh dan Aktivis KAMI yang berakhir dengan Penahanan oleh Mabes Polri, sambungnya, melanggar Konstitusi yakni Pasal 28 UUD 1945. Menurutnya, tidaklah melanggar hukum jika warga negara mengajak warga negara lainnya, untuk menyampaikan pendapat dimuka umum walaupun pendapat atau kritikan tentang UU Omnibus Law Cipta Kerja yg diketok palu oleh Ketua DPR RI 5 Oktober 2020.

"Ajakan atau himbauan kepada teman, Anggota group WA ataupun dengan media sosial lainnya, sah menurut hukum, pemakai media sosial wajib dilindungi Negara. Dan pemilik perangkat media sosial seperti FB, WA, Twitter, Youtube harus melindungi penggunanya dari pihak pihak yang membajak, meretas, mengintai komunikasi internal anggotanya," jelasnya.

Jika kita mencermati UU No.11 Tahun 2008 Tentang ITE sebagaimana telah diubah dengan UU No. 19 Tahun 2016, bahwa mengeluarkan pikiran, pendapat dengan alat elektronik dengan itikad baik, tidaklah melanggar hukum.

"Bahwa, dalam menggunakan perangkat elektronik, dengan segala fasilitasnya, untuk tujuan baik, seperti menyampaikan pikiran, pendapat dan ketidaksetujuan terhadap kebijakan Negara, adalah merupakan Hak Asasi Manusia( HAM) yang juga diatur dan dijamin UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia," terangnya.

Dalam menetapkan seseorang jadi tersangka, lanjutnya, diatur dalam Pasal 1 angka 14, Pasal 17 dan Pasal 21 ayat (1) KUHAP dan dipertegas dengan Putusan MK Nomor 21/PUI-XII /2014, tentang perlu adanya minimal dua alat bukti, dan UU ITE Pasal 45 terkait frasa "dapat menimbulkan" maka penangkapan para Tokoh KAMI, patut diyakini melanggar hukum tersebut. 

Dalam menahan seseorang yang diduga melakukan Tindak pidana, juga mempertimbangkan syarat-syarat yg ditetapkan hukum, jika kita baca pasal 21 UU No. 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)  yaitu  : dalam hal adanya keadaan yg menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana, maka terhadap 8 Tokoh dan Pejuang KAMI tersebut tidaklah memenuhi syarat untuk dilakukan penahanan.

"Untuk itu, atas dasar keadilan hukum dan nilai-nilai universial Hak Azasi Manusia, KAMI RIAU meminta Polri membebaskan para Tokoh dan Pejuang KAMI dari tuduhan yang dikaitkan dengan penerapan UU ITE yang banyak mengandung pasal-pasal multitafsir, jika disalahgunakan, maka bertentangan dengan semangat demokrasi dan konstitusi yang memberi kemerdekaan berbicara dan berpendapat kepada rakyat Indonesia."

Ali menghimbau kepada saudara-saudara tokoh dan pejuang KAMI yang saat ini ditangkap dan ditahan oleh kepolisian agar bisa sabar, tabah dan ikhlas menjalani tantangan dan ujian serta risiko dari suatu perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan.

Pengorbanan dan dedikasi yang diberikan tercatat indah dengan tinta emas dan akan dikenang dalam perjalanan sejarah Indonesia menuju Blbangsa yang maju dan jaya.

"Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan meridhoi perjuangan menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, memberikan hidayah dan inayah sehingga membukakan mata dan hati nurani yang bersih dan suci," tutupnya.***