PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM - Sebagai wujud kepedulian PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) terhadap petani madu sialang yang bekerja di area operasional perusahaan, diadakan Pelatihan Pengelolaan Madu Sialang oleh Community Development (CD) bekerjasama dengan Environment. Dengan tema ''Kembali Menuju Puncak Produksi'', pelatihan ini diadakan selama dua hari berturut-turut sejak Rabu (22/1/2014) dan berakhir Kamis (23/1/2014). Hal ini dilakukan agar bisa semakin memahami pengelolaan madu sialang dengan baik.

Peserta pelatihan ini adalah para petani yang sehari-harinya mencari madu sialang sebagai sumber penghasilannya. Para petani ini banyak yang berasal dari estate Baserah, estate Cerenti, dan estate Ukui. Sebagai pembicara dalam pelatihan ini, Purnomo, berasal dari Badan Teknologi Serat Tanaman Kehutanan yang sehari-harinya merupakan peneliti dan pengamat madu sialang.

Madu sialang sudah menjadi bagian dari tradisi serta usaha masyarakat melayu dan masyarakat lainnya yang bermukim di sekitar areal HTI PT RAPP. Dengan diadakannya pelatihan ini, bertujuan dapat mengembalikan produksi madu sialang masyarakat di sekitar area konsesi perusahaan.

Inra Gunawan sebagai pihak manajemen mengatakan dalam sambutannya bahwa petani madu sialang lewat pelatihan ini bisa bertanya langsung mengenai bagaimana pengelolaan madu yang tetap ramah lingkungan. Dalam pelatihan ini dijelaskan bagaimana menjaga lingkungan tetap lestari dan agar keberadaan lebah agar tidak punah.

''Tradisi menggunakan madu sudah menjadi trend di masyarakat. Kita bisa melestarikan madunya dan melestarikan lebahnya,” tambah Inra.

Nama madu sialang tidak asing bagi masyarakat Riau. Madu hutan ini menjadi terkenal karena asli dan memiliki khasiat khusus untuk kesehatan. Madu selain bisa dijadikan sebagai minuman yang segar, juga banyak manfaatnya. Seperti pada masyarakat kebanyakan, biasanya madu dioleskan pada bibir atau mulut bayi. Hal itu dilakukan demi kesehatan si bayi. Madu sudah banyak dikenal untuk kesehatan kulit.

''Banyak masyarakat yang salah, kalau panen mereka habiskan semua habitat lebah. Itu bisa merusak ekosistem,'' kata Purnomo yang merupakan pembicaranya.

Purnomo banyak memberikan teori dan praktek di lapangan. Beberapa orang dari timnya, menunjukkan pada pelatihan tersebut, bagaimana menjaga ekosistem dan lingkungan walaupun mengambil hasil madunya. (rls)