PEKANBARU, GORIAU.COM - Aksi penertiban pedagang kaki lima (PKL) di belakang Gedung Perpustakaan, Jalan Cut Nyak Dhien, Rabu (30/1/2013) sekitar pukul 18.30 Wib menyisakan masalah.
Pasalnya, pedagang sate yang gerobak rusak parah akan menuntut Walikota Pekanbaru, Firdaus MT. Pedagang yang bernama Zulkifli ini mengecam arogansi Satpol PP, dan Walikota Pekanbaru Firdaus.
"Saya masuk kesini untuk berdagang. Karena saya lihat ada pedagang melakukan hal yang sama. Tapi, ketika saya masuk. Tidak tahunya ada personil Satpol PP menghadang. Dan mendorong gerobak sate saya yang berakibat rusak diamuk oleh Satpol PP. Saya kutuk itu personil Satpol dan Walikota Firdaus," ujarnya.
Hal ini disampaikanya kepada wartawan, Rabu (30/1) malam disela-sela semakin memanasnya kondisi di lapangan. Zulkifli mengatakan, kejadian yang dialaminya ini akan dibawa ke meja hijau (proses hukum,red) dikarenakan sikap arogannya Satpol PP. Bila perlu nantinya menuntut pertanggungjawaban dari Walikota.
"Saya sangat mengutuk keras sikap arogan personil Satpol PP. Dan akan membawa peristiwa pengrusakan ini ke meja hijau. Tindakan petugasSatpol PP ini sudah melanggar HAM. Saya akan menuntut akanpertanggungjawaban Walikota Pekanbaru Firdaus. Karena, inikan terjadi atas intruksinya dari Walikota," katanya.
Sementara pantauan lapangan, sebagian pedagang lainya berusaha mencari oknum Satpol PP yang telah merusak gerobak sate milik Zulkifli. Jika tidak diganti rugi, massa yang dibawah satu komando bersama Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) ini berencana gelar aksi besar-besar ke kantor Walikota Pekanbaru.
Namun, sampai ini dirilis, kondisi suasana dilapangan itu masih tampak belum kondusif. Bentrok aksi kejar-kejaran dan saling hujat serta ada aksi lemparan batu masih juga berlangsung. Namun, anehnya itu ditengah aksi bentrok dikawal aparat kepolisian dan TNI. Masih ada pedagang lainnya menggelar dagangan.
Kendati demo semakin panas, tapi perwakilan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru tidak tampak di lapangan. Begitupun juga dengan kalangan anggota DPRD Pekanbaru. Sehingga memunculkan cacian dan makian terhadap pasangan kepala daerah (Firdaus-Ayat Cahyadi) dan juga pada wakil rakyat yang tidak ada peduli. (rdi)