
PEKANBARU, GORIAU.COM - Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Riau pada bulan Februari 2013, Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Riau sebesar 102,36 atau turun 0,06 persen jika dibanding bulan Januari 2013 yang mencapai 102,42. Hal ini disebabkan karena indeks harga diterima petani mengalami kenaikan.
Kepala BPS Riau Mawardi Arsyad mengatakan, bulan Januari 2013 lalu NTP Riau hanya 102,42 atau turun sebesar 0,11 persen dibanding Desember 2012 yang mencapai 102,54. Artinya awal tahun 2013, tingkat kesejahteran petani turun.
"Terjadinya penurunan tingkat kesejahteraan petani disebabkan indeks harga yang diterima mengalami kenaikan sebesar 0,68 persen relatif atau lebih kecil dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani mencapai 0,74 persen," terangnya.
Di bulan Februari Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) hanya tercatat sebesar 111,98, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 114,89, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 96,34, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPP) 100,92, sedangkan Nilai Tukar Petani Nelayan (NTPN) 90,93.
Dia menjelaskan, komoditas memberikan andil terbesar kenaikannya indeks harga yang diterima petani terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,34 persen. "Terutama diakibatkan oleh naiknya harga karet yang dengan andil sebesar 0,75 persen serta kelapa sawit sebesar 0,59 persen," terang Mawardi.
Namun lanjutnya, kenaikan indeks harga yang dibayar petani tertinggi terjadi pada subsektor tanaman pangan yang mencapai angka sebesar 0,85 persen disebab naiknya harga barang-barang konsumsi rumah tangga. Seperti hal telur ayam ras dengan andil itu sebesar 0,16 persen, ikan ekor kuning sebesar 0,12 persen.
"Kemudian ada juga andil ikan patin dan ikan asin kering sebesar 0,09 persen, rokok kretek filter sebesar 0,08 persen. Cabe merah, bawang putih, dan bawang merah sebesar 0,05 persen. Ikan nila, ikan asap, dan tarif sewa becak sebesar 0,04 persen. Minyak tanah, rokok putih capai sebesar 0,03 persen," katanya.
Dikesempatan itu Mawardi juga menjelaskan, pada bulan Februari 2013 terjadi inflasi di daerah pedesaan Provinsi Riau sebesar 0,92 persen. Inflasi pedesaan terjadi sebutnya, karena kenaikan indeks harga kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga. Sehingganya mempengaruhi terjadi inflasi di pedesaan.
"Indeks harga kelompok pengeluaran konsumsi. Pada kelompok bahan makanan 1,29 persen. Kelompok kesehatan sebesar 0,81 persen. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,80 persen. Kelompok makanan jadi, rokok serta tembakau sebesar 0,72 persen. Kelompok transportasi komunikasi 0,68 persen," katanya.
Sedangkan laju inflasi di daerah pedesaan Provinsi Riau, sebutnya pada bulan Februari 2013 sebesar 0,92 persen. Sementara inflasi ”year-on-year” (Februari 2013 terhadap Februari 2012) sebesar 4,95 persen. Kemudian inflasi kumulatif (Februari 2013 terhadap Desember 2012) mencapai angka sebesar 1,71 persen. (rdi)