
DURI - Berkembangnya isu tenaga kerja asal Cina mulai menjamur di wilayah Riau dan sekitarnya juga terendus hingga ke Mandau, Kabupaten Bengkalis. Hal ini membuat mayoritas penduduk tempatan gerah dan menolak jika tenaga kerja asing asal Cina ini bekerja di Kota Petrodollar Duri.
"Banyak pekerja atau naker lokal saja belum tentu bisa diterima bekerja di perusahaan migas, perkebunan atau lainnya di Duri. Kenapa naker asing dengan mudah bisa bekerja di kampung kami. Kalau ini perlu peran pemerintah untuk bersikap tegas dan tidak melakukan pembiaran," ujar Dedi, mantan karyawan Migas di Duri kepada GoRiau.com (GoNews Grup), Selasa (27/12/2016) siang.
Kekhawatiran Dedi dinilai wajar karena saat ini banyak perusahaan di Kecamatan Mandau yang melakukan pemutusan hubungan kerja kepada karyawannya dengan alasan rasionalisasi anggaran.
"Katanya naker Cina ini bisa diupah lebih murah dibandingkan naker lokal. Makanya mereka juga dengan mudah diterima oleh perusahaan. Jika ini memang benar-benar terjadi, alamatlah semakin banyak orang Duri yang menjadi miskin dan naker asing terus menjamur di Duri," tuturnya lagi.
Menjawab kekhawatiran warga Duri ini, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bengkalis, H Abdul Ridwan Yazid melalui Kabid P3TK, H Anharizal saat dikonfirmasi mengatakan hingga penghujung tahun 2016 ini, belum ada tenaga kerja asing asal Cina yang masuk ke Duri, Bengkalis.
"Baik itu di perkebunan maupun di perusahaan Migas, tidak ada laporan yang kita terima. Namun untuk naker asing dari negara lainnya itu ada sekitar 75 orang. Namun hanya 50 orang yang aktif saat ini. Dan itu pun mereka sifatnya tidak menetap di Duri, Bengkalis. Terkadang lebih sering di perusahaan induk di Jakarta," ujar Anharizal yang dalam waktu dekat juga akan melakukan pendataan ulang mengenai kedatangan naker Cina ini. *** #BENGKALIS