TELUKKUANTAN - Kondisi masyarakat Kuansing usai Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sangat menyedihkan. Dimana, hampir tiap hari terjadi pengasingan dan pengotakan, bahkan 'bullying' lewat media sosial.

Hal ini disampaikan Ketua Komisi C DPRD Kuansing, Andi Nurbai, SP kepada GoRiau.com, Minggu (12/6/2016) siang di Telukkuantan, menanggapi kondisi masyarakat Kuansing pasca Pilkada.

"Bisa kita lihat, bagaimana pendukung dan tim suksesnya (Mursini - Halim) saat Pilkada lalu, sekarang sibuk mengelompokkan, mengotak-ngotakkan orang," ujar Andi.

Padahal, Mursini - Halim dalam berbagai kesempatan selalu mengajak seluruh masyarakat Kuansing untuk bersatu dan menghilangkan perbedaan. Ternyata, kondisi itu sangat jauh berbeda dengan pendukungnya saat Pilkada. "Seolah-olah, ini hanya basa-basi saja dari Mursini-Halim."

"Mursini - Halim harus bisa menyatukan masyarakat, jika tidak akan muncul konflik oriental di tengah-tengah masyarakat," ujar Andi.

Andi melihat, persaingan tidak sehat tidak hanya terjadi di lapisan bawah, tapi juga terjadi pada golongan elit. Kondisi ini sangat membahayakan Kuansing ke depan.

"Kuansing bisa tidak aman. Jika tidak aman, bagaimana melakukan pembangunan? Perlu kita ketahui bersama, keamanan itu tidak hanya tugas polisi, tapi tugas kita bersama," ujar Andi.

Andi juga menyoroti kasus yang terjadi beberapa hari lalu di media sosial. Dimana, seorang pejabat daerah dibuli habis-habisan oleh tim sukses Mursini - Halim. "Mereka itu PNS, sudah kewajiban untuk loyal terhadap pemimpin. Cerita dukung-mendukung saat Pilkada, itu hal lain."

"Jangan samakan dengan sekarang. Kan tidak berdosa beda pilihan. Ini tidak, pegawai bersalaman dengan Mursini - Halim habis dicaci," tambah Andi.

Andi mengingatkan agar Mursini - Halim meredam gejolak yang ditimbulkan oleh pendukungnya saat Pilkada dulu. Sebab, saat ini Mursini - Halim merupakan milik masyarakat Kuansing.

"Anda jangan lupa, kemenangan saat Pilkada dulu hanya satu TPS. Sangat tipis," tutup Andi.***