PEKANBARU, GORIAU.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau sudah menjadi langganan terjadi setiap tahunnya. Bahkan untuk tahun ini, disebut-sebut sudah memasuki usia 17 tahun sejak 1997 silam. Mungkinkan hutan di Riau akan tinggal sejarah?

Jawabannya tentu saja mungkin. Danrem 031/WB, Brigjen Prihadi Agus Irianto, beberapa waktu lalu menyampaikan, perlu ada sentuhan kultural untuk seluruh masyarakat agar terbangun kesadaran yang mendasar.

"Sentuhan kultural harus dibangkitkan di Riau oleh semua pihak, agar kesadaran menjaga hutan bisa terwujud," tegas Danrem.

Jika kondisi ini tetap terulang setiap tahunnya, tidak menutup kemungkinan bahwa hutan di Riau akan semakin terkuras dengan terbakar setiap tahunnya. Untuk itu, peran pemerintah baik pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga desa sangat dibutuhkan untuk memberi kesadaran berarti kepada masyarakat.

Karena setiap tahun, kebakaran yang melanda Riau terus menguras keberadaan hutan dan lahan yang tersisa. "Kalau tidak ada kesadaran, maka hutan di Riau akan menjadi sejarah nantinya," pungkas Danrem.

Karena dugaan kuat, kebakaran hutan dan lahan yang besar dan luas di Riau didominasi adanya unsur kesengajaan dari oknum-oknum tertentu. Sementara kebakaran yang terjadi karena faktor alam hanya beberapa persen saja.

Diceritakan Danrem, pada saat tinjauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Riau beberapa pekan lalu, hampir semua titik api sudah bisa dikendalikan. Bahkan pernah tercatat sampai nol titik api.

"Sementara selepas Presiden SBY meninggalkan Provinsi Riau, mendadak muncul 45 titik api sekaligus, ini jelas bahwa terjadinya perambahan masif," tambah Danrem.

Untuk itu, kembali dirinya mengingatkan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran memelihara aset bersama ini. Karena hutan dan lahan yang ada merupakan penopang kehidupan di masa yang akan datang.***