FLORES – Kematian mendadak aktivis lingkungan Rudolfus Oktavianus Ruma alias Vian Ruma (30) meninggalkan banyak tanda tanya. Sosok guru SMP sekaligus penggerak penolakan proyek panas bumi di Flores itu ditemukan tewas tergantung di sebuah pondok Desa Tonggo, Nangaroro, pada Jumat (5/9/2025).

Bagi keluarganya, kasus ini janggal. Dugaan adanya kekerasan muncul, sementara aparat belum memberi jawaban jelas. Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, menegaskan tragedi ini tak boleh dibiarkan samar. “Ini bukan hanya soal hilangnya nyawa anak bangsa, tetapi juga perlindungan hak asasi manusia serta kebebasan berekspresi warga negara. Aparat harus mengungkap fakta yang sebenarnya,” katanya, Rabu (10/9/2025). 

Barang-barang yang ditemukan di lokasi—tas, sepatu, helm, hingga motor—justru makin memperkuat kecurigaan keluarga. Namun kepolisian baru sebatas menjelaskan temuan awal tanpa menyampaikan hasil pemeriksaan medis. “Kami masih dalami, termasuk kaitan dengan aktivitas korban sebagai aktivis penolak proyek geotermal,” ujar Kapolsek Nangaroro, Iptu Juliardi.

Vian Ruma dikenal aktif menentang proyek panas bumi yang dikembangkan di Flores sejak 2017, ketika pulau ini ditetapkan pemerintah sebagai Geothermal Island dengan potensi 800 MW. Ia kerap bersuara lantang lewat media sosial, termasuk unggahan terakhirnya pada 7 Juni 2025: “Tanah kita masa depan kita.”

Penolakannya bukan tanpa alasan. Keuskupan Agung Ende juga pernah menyuarakan kekhawatiran bahwa proyek panas bumi berisiko merusak ekosistem dan kehidupan sosial warga. “Penting bagi umat untuk menolak proyek ini. Kita harus menjaga kepentingan masyarakat lokal,” tegas Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, awal tahun ini.

Kini, kepergian Vian Ruma bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga alarm bagi gerakan lingkungan di Flores. Tragedi ini menyoroti risiko yang dihadapi pembela lingkungan ketika suara kritis mereka berhadapan dengan kepentingan besar energi dan investasi. ***