
PEKANBARU – Banjir yang berulang kali menggenangi sejumlah kawasan di Pekanbaru perlahan mendorong lahirnya pendekatan yang tak lagi semata mengandalkan saluran drainase. Pemerintah Kota Pekanbaru kini mulai melirik ruang-ruang hijau dan biru sebagai bagian dari solusi, termasuk kawasan kampus Universitas Riau (Unri), yang menyimpan potensi alam berupa danau-danau alami.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menyebut penanganan banjir sebagai pekerjaan yang menuntut keseriusan, kesinambungan, dan kolaborasi lintas sektor. Menurut dia, persoalan banjir tak mungkin diselesaikan oleh satu pihak semata.
“Kami terus melakukan langkah strategis, termasuk menjalin koordinasi dengan berbagai pihak, baik institusi pendidikan maupun badan usaha,” ujar Agung.
Salah satu kolaborasi yang kini mulai dirajut adalah dengan Universitas Riau. Kampus negeri terbesar di Riau itu menyediakan sepuluh embung—yang dalam perencanaan teknis disebut sebagai danau—untuk menyalurkan dan menampung limpahan air hujan dari kawasan Simpang Tobek Godang hingga Jalan Bangau Sakti. Skema ini diproyeksikan menjadi solusi jangka menengah untuk mengurangi genangan yang kerap terjadi saat hujan deras mengguyur kota.
Tak hanya dengan perguruan tinggi, Pemko Pekanbaru juga melibatkan badan usaha. Rumah Sakit Awal Bros diminta membangun sumur resapan berukuran besar di kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Sumur resapan ini dirancang untuk menahan aliran air dari sungai di belakang rumah sakit agar tidak langsung meluber ke badan jalan.
Namun, peran Unri dalam skema ini jauh melampaui penyediaan ruang tampung air. Kampus ini justru menjadi simpul utama pengendalian banjir kawasan barat Pekanbaru.
Sepuluh Danau yang Saling Terhubung
Ir. Wahyu Hidayat, ST., MURP, dosen Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Unri, menjadi salah satu arsitek yang terlibat dalam perancangan revitalisasi danau-danau tersebut. Saat ditemui di ruang Arsitektur Unri, Jumat siang (9/1/2026), Wahyu memaparkan bahwa terdapat sepuluh danau di kawasan kampus yang saling tersambung membentuk satu sistem aliran air.

“Secara konsep, kita sepakat menggunakan istilah danau, bukan embung. Karena danau ini memang sudah ada secara alami. Kalau embung kesannya buatan dan diisi air. Ini berbeda,” ujar Wahyu.
Sepuluh danau itu diberi nama yang merefleksikan identitas akademik Unri. Di bagian paling depan kampus, yang menghadap Jalan HR Soebrantas, terdapat Danau Justisia dan Danau Medika. Keduanya menjadi pintu masuk utama air dari kawasan kota.
Dari sana, aliran air diteruskan ke Danau Humaniora yang berada di antara Gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan Integrated Classroom. Aliran kemudian menyambung ke Danau Teknika di dekat musala Rektorat, sebelum mengarah ke Danau Pedagogia di sekitar Gedung Serba Guna M. Diah FKIP.
Pedagogia berfungsi sebagai danau cadangan yang dapat menyalurkan air ke Danau Kapita, danau yang berada tepat di depan Gedung Rektorat dan selama ini menjadi salah satu ruang rekreasi paling ramai di kampus. Dari Kapita, aliran bertemu kembali dengan Danau Silvika di kawasan arboretum, yang juga berfungsi sebagai cadangan.
Selanjutnya, air mengalir ke Danau Fisheria, yang kerap digunakan mahasiswa Perikanan sebagai lokasi pembelajaran. Di sebelahnya terdapat Danau Botanika, dekat stadion utama Unri, sebelum akhirnya bermuara ke Danau Agrikultura yang berada di cekungan Fakultas Pertanian. Dari titik ini, aliran air diteruskan menuju Sungai Air Hitam.
“Semua danau ini sambung-menyambung dari ujung Soebrantas dan dialirkan ke Sungai Air Hitam. Sehingga air banjir bisa ditarik langsung ke dalam Unri tanpa harus berputar jauh,” kata Wahyu.
Dari Konservasi ke Pengendalian Banjir
Tim perencana yang dikenal sebagai Tim Revitalisasi Danau Unri ini dibentuk pada 2024 atas inisiatif mantan Wakil Rektor II Unri, Agus Sutikno. Ketua tim berasal dari Teknik Sipil, Dr. Sigit Sutikno, sementara Wahyu bertanggung jawab pada aspek arsitektural dan tata ruang.
Awalnya, konsep utama pengembangan danau adalah konservasi air dan edukasi. Namun, dinamika kota memaksa perubahan prioritas.
“Awalnya konservasi yang paling utama. Tapi setelah melihat banjir di Jalan Soebrantas dan Simpang Baru, konsepnya berubah. Pengendalian banjir menjadi prioritas utama,” ujar Wahyu.
Menurut dia, selama ini air hujan dari kawasan Panam hingga Tobek Godang harus mengalir melalui jalur panjang yang relatif datar. Kondisi itu membuat air mudah meluap. Dengan menarik aliran langsung ke dalam kawasan Unri, jarak tempuh air menjadi lebih pendek dan kemiringan lebih efektif.
Untuk itu, dirancang kanal besar sedalam dua hingga tiga meter yang menghubungkan danau-danau di bagian depan kampus ke bagian belakang. Kanal ini menjadi tulang punggung sistem pengendalian banjir.
Kekhawatiran soal sampah dan limbah perkotaan juga masuk dalam perhitungan desain. Di setiap inlet, atau pintu masuk air, disiapkan sistem penyaringan.
“Sampah disaring di depan, yang masuk ke danau hanya airnya. Setelah itu, air disaring lagi dengan biofilter sebelum benar-benar masuk ke danau,” kata Wahyu.
Biofilter ini menggunakan tanaman air tertentu yang berfungsi mengikat zat pencemar. Dengan demikian, air yang mengalir ke dalam sistem danau relatif lebih bersih dan aman bagi ekosistem kampus.
Masterplan revitalisasi sepuluh danau ini diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp150 miliar. Namun, keterbatasan anggaran membuat pengerjaan dilakukan bertahap. Pada tahap awal, Unri hanya memperoleh alokasi sekitar Rp25 miliar untuk dua danau depan dan satu jalur penghubung.
Perubahan kebijakan nasional yang memprioritaskan ketahanan pangan membuat proyek ini sempat tertahan di tingkat pusat. Meski demikian, peluang kembali terbuka melalui skema pengusulan oleh pemerintah daerah.
Pertemuan antara Pemko Pekanbaru dan Unri pada Jumat (2/1/2026) pun menjadi titik balik. Dalam pertemuan itu, disepakati rencana revitalisasi sepuluh danau kampus sebagai bagian dari solusi banjir Kota Pekanbaru. Pemko dan Unri juga sepakat membentuk tim koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Riau dan Balai Wilayah Sungai (BWS).
Rektor Unri Prof. Dr. Hj. Sri Indarti, S.E., M.Si menyatakan dukungan penuh terhadap rencana tersebut. Menurut dia, Unri memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi bagi lingkungan sekitar kampus.
“Ini sinergi yang memberi dampak baik, tidak hanya untuk edukasi tetapi juga untuk masyarakat Kota Pekanbaru,” ujarnya.
Bagi Wahyu dan timnya, proyek ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Unri, kata dia, sedang menegaskan diri sebagai bagian dari solusi kota.
“Kami ingin Unri menjadi ruang hijau dan ruang air bagi Pekanbaru. Bukan hanya untuk kampus, tapi untuk kota,” ujarnya.
Jika terealisasi, danau-danau yang semula tak tertata akan bertransformasi menjadi ruang konservasi, pengendali banjir, sekaligus ruang publik dan pembelajaran. Di sanalah, kolaborasi antara akademisi dan pemerintah diuji—apakah mampu mengubah wajah kota yang selama ini akrab dengan genangan, menjadi kota yang berdamai dengan air. ***