
PEKANBARU, GORIAU.COM M Tri Sapurtra gagal meraih medali emas nomor serba bisa cabang senam yang berlangsung di Hall Senam Sports Center, Rumbai, Senin (10/9/2012). Pesenam andalan Riau ini hanya mampu meraih perak setelah dikalahkan pesaingnya dari DKI yang memimpin perolehan poin.
Tri sebenarnya berpeluang untuk meraih emas. Bahkan, peraih emas SEA Games 2011 sempat unggul di empat alat dari enam alat yang dipertandingan pada nomor ini. Sayang, di dua alat yakni palang tunggal dan palang sejajar, ia terjatuh. "Sayang Tri tidak bisa tampil maksimal di dua alat yang merupakan spesialiasnya. Kalau saja ia mampu meraih poin di dua tersebut, emas sudah ditangan," kata Ahmad Marcos, pelatih M Tri Saputra.
Pesenam DKI Jakarta, Edriadi meraih emas dengan total poin 79.650. Ia unggul 150 poin dari M Tri Saputra yang berada di tempat kedua dengan total 78.600. Perunggu di nomor ini rebut Agus Adi Prayoko, dari Jawa Timur dengan total 78.600 poin.
"Konsentrasi saya pecah karena masalah non teknis dengan pengusiran ayah saya yang selama ini menjadi pelatih tidak boleh masuk oleh panitia. Tapi, di dua nomor saya mulai bisa mengendalikan pikiran sehingga saya bisa merebut perak," kata Tri.
Cabang senam masing mempertandingan beberapa nomor lagi. M Tri masih berpeluang untuk merebut emas di tiga nomor spesialisnya yakni, palang tunggal, palang sejajar dan kuda pelana. " Kalau Tri stabil dan konsentrasinya tak pecah, tiga emas bisa diraihnya. Mudah-mudahan nanti ia bisa tampil dengan percaya diri," harap Marcos, yang juga orang tua M Tri.
KecewaM Tri juga mengaku kecewa dengan pengusiran orang tua yang juga pelatih masuk ke areal pertandingan oleh panitia pertandingan. Seharusnya kondisi ini tidak terjadi, apalagi Riau sebagai tuan rumah. "Saya sangat kecewa dengan sikap yang dilakukan pihak panitia. Mereka harusnya tahu bahwa kita ini menjadi tuan rumah sehingga tidak mempersulit," ucapnya.
Seperti diketahui, saat tampil pada nomor beregu putra dan putri, Minggu (9/9), Ahmad Marcos turun ke arena untuk memberi intruski kepada atlet agar tampil maksimal. Tapi, oleh pihak panitia yang notabone orang Persani Riau dilarang karena Marcos tidak masuk sebagai pelatih atau offisial dalam kontingen senam.
"Saya bener-benar kecewa dengan mereka. Saya akui saya tidak masuk dalam tim, tapi setidaknya mereka (panpel, orang Persani Riau, red) tahu bahwa kehadiran saya untuk memberi motivasi agar atlet bisa tampil maksimal," kata Marcos kecewa.
Ia juga sangat menyayangkan sikap Persani Riau yang hanya merekomendasi empat pelatih tim senam Riau. Berbeda dengan daerah lain yang memiliki pelatih cukup banyak. "Coba anda lihat tu, Jatim, DKI dan daerah pelatih senamnya ada enam sampai delapan orang. Kita tidak harus dibatasi, padahal ini sangat mendukung kelangsung atlet bertanding," ujar Marcos lagi. (*/rsc)