PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM - Ratusan konsumen penikmat aliran listrik yang bersumber dari pembangkit PLTG, Lirik, Kabupaten Inhu mengutuk keras. Pasalnya, aliran listrik hidup dan mati suka-suka, sering mati mendadak hingga berkali-kali setiap harinya. Diguyur hujan gerimis dan berpetir sedikit saja, aliran listrik langsung mati dalam kurun waktu yang lama. Seperti halnya pada Senin malam (25/3/2013), aliran listrik mati total sejak pukul 19.00 hingga tengah malam baru menyala, kemudian listrik mati lagi. Diperkirakan pada Senin malam, listrik hanya menyala sekitar 3 jam-an saja.
Celakanya, dengan kondisi tidak mampu memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggannya, sejak Januari 2013, tagihan rekening pelanggan tiba-tiba saja membengkak. Disinyalir pihak PLN Sub Unit Sorek dan Pangkalan Kerinci sengaja melakukan praktek pungutan liar terhadap para konsumen yang buta soal kelistrikan.
Warga Sorek Satu,Kecamatan Pangkalan Kuras sekaligus penikmat aliran listrik dari PLTG, Rudi Hartono, Selasa (26/3/2013), mengatakan, keberadaan listrik yang bersumber dari PLTG Lirik, Inhu, sangat mengecewakan pelanggan. Sebab itu, dalam waktu dekat ini seluruh pelanggan PLN akan melakukan aksi demo mempertanyakan kinerja Kepala PLN yang dipimpin Said Murtazak.
"Seluruh pelanggan merasa sangat dirugikan atas kinerja PLN yang sering mati mendadak untuk setiap harinya ini. Bisa hingga 10 kali aliran tiba-tiba mati, yang berujung rusaknya perangkat elektronik di rumah warga. Yang lebih mengagetkan pelanggan lagi adalah membengkaknya jumlah tagihan rekening sejak bulan Januari ini. Biasanya konsumen hanya membayar Rp 300 ribu perbulannya, sekarang menjadi naik hingga Rp 1,5 juta. Ini sangat tidak masuk akal dan berdasar.
Dugaan, praktek ini sengaja dilakukan oleh oknum PLN karena pada bulan April nanti, PLTG yang berpusat di Langggam, Kabupaten Pelalawan segera menyala.
Nah, kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab dari PLN itu mengeruk keuntungan," terang salah satu konsumen yang kecewa, Rudi, mewakili ratusan konsmumen lainnya dengan nada kecewa.
Tagihan rekening melonjak secara tiba-tiba, sambung warga yang tinggal di Kampung Baru, Kelurahan Sorek Satu itu, terkesan semacam permainan yang dilakukan oleh pihak PLN. Sebelumnya, oknum Biro dan PLN melakukan praktek pungli dari pembelian Kwh (meteran) pelanggan. Harga meteran tarif resmi dari PLN hanya berkisar Rp 600 hingga Rp 900 saja, bisa naik hinga Rp 4 juta sampai Rp 5 juta yang dibebankan kepada konsumen. Namun, belakangan ini dimedia massa sangat gencar melakukan pemberitaan yang menyebutkan harga resmi Kwh itu.
"Saya memiliki bukti harga resmi dari pihak PLN, tarif Kwh nya hanya senilai, yakni untuk Daya 900 VA senilai Rp 698.000, daya 1300 VA seharga Rp 998.000, daya 2200 VA Rp 1.676.000, daya 3500 VA seharga Rp 2.738.500, daya 4400 VA senilai Rp 3.436.000, daya 5500 VA senilai Rp4.288.500, dan daya 7700 VA senilai Rp6.023.500. Semua harga diatas sudah termasuk token perdana. Sebelum tabel meteran itu dirilis ke media massa, pihak Biro dan pihak PLN menjual meteran kepada pelanggan mencapai jutaan rupoiah, Kwh daya 900 dihargai Rp 3 juta, Kwh daya 1300 dijual dengan harga mencapai Rp 5 juta. Bandingkan saja dengan harga standar dan resmi yang seharusnya dibayar konsumen, mencapai jutaan rupiah uang konsmumen disikat pihak PLN, bukankah itu namanya pungli," ungkapnya.
Karena itu, lanjutnya, dirinya berharap kepada penegak hukum di negeri ini agar PT PLN melakukan audit dan pemeriksaan. Karena bukan rahasia umum lagi, oknum PLN sering kali melakukan praktek pungli kepada konsumen yang tidak memahami kelistrikan.
Kepala PT PLN Cabang Pangkalan Kerinci, Said Murtazak, mengungkapkan bahwa kondisi aliran lsitrik yang mati tiba-tiba disaat hujan dan petir disebabkan takut membahayakan listrik di rumah konsumen maupun jaringan tegangan tinggi.
"Memang pada Senin malam (25/3) kondisi cuaca tidak bersahabat, turun hujan dan berpetir. Jika petirnya terlalu kuat, itu bisa membahayakan aliran listrik di rumah konsumen. Bisa saja, jika di Sorek hujannya hanya gerimis dan petirnya kecil, tapi di Lirik sana deras dan berpetir kuat. Makanya lairan listrik dimatikan, karena menurut petugas di Lirik sana sangat membahayakan", ujar Said Murtazak. (ilm)