
PEKANBARU - Tumpukan sampah harian yang mencapai 1.300 ton di Kota Pekanbaru mendorong langkah kolaboratif untuk menekan volume limbah langsung dari sumbernya. Melalui inisiatif terbaru, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru tengah menjajaki kerja sama strategis dengan Universitas Riau (Unri) guna mendirikan fasilitas Waste Station di sekitar lingkungan kampus.
Kepala DLHK Pekanbaru, Reza Aulia Putra mengungkapkan bahwa rencana pengadaan tempat pemilahan sampah anorganik ini telah mendapat sinyal positif dari pihak universitas. Fasilitas tersebut diproyeksikan berdiri di kawasan Bina Widya dan Tuah Madani, area yang bersinggungan langsung dengan permukiman padat penduduk.
Legalitas dan kejelasan status lahan menjadi pertimbangan utama pemerintah agar stasiun pengelolaan limbah permanen ini tidak memicu persoalan di masa mendatang.
"Waste Station ini sifatnya permanen. Jadi lokasinya harus di lahan yang jelas statusnya dan tidak berpindah-pindah. Karena itu, kami menjajaki kerja sama dengan Unri," urainya usai mengisi seminar edukasi lingkungan di FISIP Unri, Selasa (18/8/2026).
Reza menyebut, pemilihan kerja sama langsung dilakukan di tingkat universitas lantaran lahan yang dibidik merupakan aset milik kampus induk. "Karena lahannya merupakan tanah Unri, tentu kerja samanya harus dengan universitas. Bukan hanya dengan fakultas," tegasnya.
Kehadiran fasilitas daur ulang ini dirancang secara inklusif. Sasaran utamanya tidak sebatas sivitas akademika, melainkan juga merangkul warga sipil di sekitar wilayah Bina Widya dan Tuah Madani. Kawasan ini dinilai sangat strategis mengingat ribuan mahasiswa hidup dan beraktivitas berdampingan dengan masyarakat setempat.
"Kami berharap masyarakat di kawasan Bina Widya dan Tuah Madani, termasuk mahasiswa yang ada di sekitar kawasan tersebut, tertarik untuk ikut memanfaatkan Waste Station," harapnya.
Dalam penerapannya nanti, warga akan diedukasi agar mau memilah sampah rumah tangga secara mandiri, kemudian menyetorkannya ke fasilitas pengumpul ini. "Tujuannya supaya tidak semua sampah masuk ke TPA, terutama sampah anorganik yang sebenarnya masih bisa dipilah dan dimanfaatkan kembali," jelas Reza.
Langkah ini sangat sejalan dengan visi Pemkot Pekanbaru yang ingin menjadikan fasilitas pengelolaan limbah sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat. Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar menuturkan bahwa pemilahan sampah berpotensi mendatangkan pundi-pundi rupiah jika dikelola dengan cermat.
"Ketika sampah nonorganik dipilah, ternyata bisa menjadi uang. Ini yang bisa merangsang masyarakat untuk mau memilah sampah dari rumah," paparnya.
Pemerintah berupaya menghapus stigma sampah sebagai barang buangan yang tak bernilai. Markarius memberikan gambaran tentang warga yang sukses meraup penghasilan tambahan lebih dari Rp2 juta per bulan murni dari hasil mengumpulkan barang bekas bernilai ekonomis.
"Daripada menganggur, dia memilih sampah dari tetangga. Lingkungannya jadi lebih bersih dan dia mendapatkan penghasilan," imbuhnya.
Semakin tinggi tingkat partisipasi publik dalam memilah limbah harian, beban operasional pemerintah untuk mengevakuasi sampah menuju tempat pemrosesan akhir tentu akan semakin ringan. Sinergi dengan institusi pendidikan ini juga dinilai tepat sasaran sebagai wahana edukasi nyata.
Predikat Green Campus yang disandang Unri menjadi modal kuat terwujudnya visi lingkungan berkelanjutan di wilayah tersebut. "Unri ini setahu saya sudah dideklarasikan sebagai Green Campus, kampus yang sudah mengedepankan konsep pembangunan berkelanjutan dalam pembangunan lingkungan," pungkas Markarius. ***