PEKANBARU – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Provinsi Riau sepanjang Januari hingga Juni 2025 mengalami penurunan drastis. Berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Riau yang dirilis Jumat (1/8/2025), total kunjungan wisman selama enam bulan pertama tahun ini hanya mencapai 119.505 kunjungan, anjlok hingga 51,27 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 yang mencatat 245.222 kunjungan.

Artinya, dalam setahun, Riau kehilangan lebih dari 125 ribu wisatawan asing. Sebuah angka yang mencengangkan dan seharusnya menjadi alarm serius bagi para pengambil kebijakan pariwisata di daerah ini.

Memang, bila dibandingkan bulan sebelumnya, kunjungan wisman pada Juni 2025 naik tipis sebesar 3,87 persen menjadi 24.366 kunjungan dari 23.459 kunjungan di Mei. Namun angka ini tetap tak mampu menutup kenyataan pahit bahwa jika dibandingkan dengan Juni 2024, kunjungan tersebut anjlok hingga 36,94 persen.

Ironisnya, dari total kunjungan Juni 2025, sebanyak 16.564 kunjungan bukan berasal dari pintu imigrasi resmi, melainkan tercatat lewat Mobile Positioning Data (MPD) di Kabupaten Bengkalis. Hanya 7.802 wisman yang benar-benar tercatat melalui empat pintu utama: Bandara SSK II, Pelabuhan Dumai, Bengkalis, dan Tanjung Harapan di Kepulauan Meranti.

Angka ini seakan memperlihatkan betapa lemahnya daya tarik pintu resmi Riau sebagai gerbang wisata selama satu semester ini. Laut masih mendominasi, dengan 55,87 persen kunjungan melalui jalur laut, sedangkan udara hanya menyumbang 44,13 persen.

Ketergantungan pada Malaysia dan Minimnya Diversifikasi

Yang lebih mencemaskan lagi, ketergantungan Riau terhadap wisatawan asal Malaysia sangat tinggi. Wisman asal negeri jiran itu menyumbang 47,07 persen dari total kunjungan, atau sekitar 11.468 orang. Sementara negara-negara lain seperti China (7,76 persen), Hongkong (3,77 persen), dan Thailand (3,44 persen) masih jauh di bawah.

Lebih miris lagi, meski kunjungan dari negara seperti Amerika dan Jepang tercatat naik signifikan masing-masing 491,67 persen dan 154,55 persen, jumlah absolutnya sangat kecil. Kenaikan itu tampak lebih seperti efek statistik daripada dampak nyata yang bisa mengangkat performa pariwisata Riau secara keseluruhan.

Sebaliknya, negara potensial seperti Singapura dan Korea Selatan justru mencatat penurunan tajam, masing-masing turun 59,90 persen dan 47,33 persen. Sebuah sinyal buruk bagi branding internasional pariwisata Riau yang tampaknya kehilangan gaung.

Dari Januari hingga Juni 2025, grafik kunjungan wisman ke Riau tampak fluktuatif namun tak menunjukkan tren optimistis. Mulai dari 18.955 kunjungan di Januari, sempat merosot di Februari, naik turun di bulan-bulan berikutnya, dan baru mencapai angka tertinggi di Juni dengan 24.366 kunjungan. Tetap saja, angka ini belum pernah menyentuh kembali angka-angka tertinggi yang pernah dicapai tahun lalu.

Pertanyaannya: ke mana arah pariwisata Riau?Memang Juni belum memasuki fase dimana viralnya tren aura farming pacu jalur, namun dengan penurunan setengah populasi wisman dibanding tahun lalu, sangat jelas bahwa harus adanya catatan oleh pemerintah. Terutama dalam program promosi dan pengembangan destinasi di Riau belum menjawab kebutuhan dan ekspektasi wisatawan asing. Ketergantungan pada negara tetangga dan kurangnya diversifikasi pasar menjadi tantangan.

Tanpa langkah konkret dan evaluasi menyeluruh dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pariwisata, Riau berpotensi terus kehilangan daya saing di kancah wisata internasional. Bagaimana hasilnya nanti setelah viralnya aura farming dapat dibuktikan dengan rilis BPS selanjutnya. ***