
JAKARTA - Peneliti politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo menyoroti makin menguatnya dukungan politik ke pemerintah di tengah wacana masuknya Presiden Partai Buruh, Said Iqbal ke jajaran kabinet. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan berat bagi jalannya mekanisme check and balances dalam sistem demokrasi.
Wasisto melihat sebagian besar kekuatan politik kini berada di barisan pendukung penguasa. Situasi tersebut jelas berpotensi melemahkan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap berbagai kebijakan yang diterbitkan.
“Ini yang menjadi tantangan karena hampir sebagian besar narasinya pro semua kepada pemerintah, hal ini yang membuat check and balances mengendur,” urainya, Minggu (7/6/2026).
Ruang untuk melontarkan kritik juga dinilai semakin sempit. Masukan yang bertujuan untuk perbaikan sering kali disalahartikan sebagai bentuk serangan langsung.
“Apalagi saat ini mengkritik pemerintah akan dianggap ofensif meskipun maksudnya konstruktif,” tambahnya.
Terkait wacana merapatnya tokoh buruh ke kursi pemerintahan, Wasisto menaruh harapan besar agar konsistensi perjuangan tidak pudar. “Saya harap Said Iqbal tetap idealis dan konsisten perjuangkan nasib buruh dari dalam lingkar kekuasaan,” tegasnya.
Kabar mengenai manuver politik ini pertama kali mencuat dari pernyataan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi. Ia memberikan sinyal kuat soal potensi masuknya Said Iqbal ke kabinet di kompleks Istana Presiden, Kamis (4/6/2026).
"Ya, kemungkinan ya, kemungkinan berkaitan dengan tentunya perjuangan beliau selama ini. Berhubungan dengan kiprah beliau,” ungkap Prasetyo.
Meski demikian, posisi pasti yang akan ditempati oleh tokoh buruh tersebut masih menjadi teka-teki. Prasetyo memilih untuk tidak memberikan jawaban gamblang dan meminta publik bersabar. "Tunggu informasi," tutupnya. ***