
YANGON – Pemerintah Myanmar menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo melanda wilayah tengah negara tersebut, Jumat (28/3/2025). Bencana ini menewaskan sedikitnya 2.056 orang dan menyebabkan ribuan lainnya luka-luka.
"Myanmar mengumumkan tujuh hari berkabung nasional atas gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 skala richter yang melanda Myanmar bagian tengah," demikian pernyataan resmi media pemerintah Myanmar, MRTV, dikutip Anadolu Agency, Selasa (1/4/2025).
Pemerintah mengumumkan bahwa selama masa berkabung, bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang sebagai penghormatan kepada para korban. Hingga saat ini, Tim Informasi Administrasi Negara Myanmar melaporkan sebanyak 2.056 orang meninggal dunia, sekitar 3.900 orang luka-luka, dan hampir 270 orang masih hilang.
Rusia, India, Tiongkok, Thailand, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Emirat Arab (UEA), serta sejumlah negara lain, telah mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan (SAR) beserta bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak.
Namun, operasi penyelamatan di Myanmar mengalami hambatan serius akibat pemadaman listrik dan gangguan jaringan komunikasi. Selain itu, pemerintah setempat mengaku kekurangan alat berat, sehingga proses evakuasi dan pencarian korban tidak maksimal.
Data sementara menunjukkan lebih dari 10.000 bangunan di Myanmar bagian tengah dan barat laut mengalami kerusakan parah atau roboh. Di Distrik Mandalay, sebuah gedung kelas prasekolah ambruk dan menewaskan sedikitnya 50 anak serta dua guru.
Laporan terbaru dari AI for Good Lab milik Microsoft menunjukkan, berdasarkan citra satelit Mandalay, terdapat 515 bangunan mengalami kerusakan antara 80 hingga 100 persen. Sementara itu, sekitar 1.524 bangunan lainnya rusak antara 20 hingga 80 persen.
Pemerintah Myanmar menyatakan bahwa jumlah korban masih berpotensi bertambah seiring pencarian yang terus dilakukan di wilayah-wilayah terdampak. ***