
JAKARTA – Angkatan Laut Iran mengklaim telah berhasil mengoordinasikan perjalanan 26 kapal melalui Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Langkah ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Berdasarkan laporan kantor berita Aljazeera, Rabu (20/5/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan lalu lintas laut di Selat Hormuz kini berada di bawah pengawasan penuh pihak mereka. Seluruh kapal yang melintas diwajibkan mengantongi izin.
"Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilakukan dengan izin dan berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC," urai pernyataan resmi IRGC yang dimuat oleh kantor berita ISNA.
Otoritas Selat Teluk Persia Iran turut merilis peta baru yang menetapkan zona maritim khusus di bawah kendali mereka. Wilayah kekuasaan tersebut membentang dari kawasan Kuh-e Mubarak di Iran hingga area dekat Fujairah, Uni Emirat Arab di bagian timur. Sementara pada sisi barat, zona itu mencakup perairan dari Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari lalu antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini berdampak besar terhadap perdagangan energi global. Jalur perairan yang biasanya melayani seperlima ekspor energi dunia kini mengalami pembatasan oleh Iran, yang kemudian dibalas oleh Washington melalui blokade pelabuhan-pelabuhan utama penopang ekonomi Teheran.
Dampak dari perang ini mulai mengancam rantai pasokan dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO memperingatkan adanya ancaman krisis harga pangan dalam enam hingga 12 bulan ke depan akibat guncangan agrifood sistemik.
"Guncangan ini terjadi secara bertahap, mulai dari energi, pupuk, benih, penurunan hasil panen hingga kenaikan harga pangan," papar perwakilan FAO.
Terkait upaya diplomasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim adanya kemajuan dalam pembicaraan. Namun, ia memberi peringatan keras bahwa opsi militer tetap terbuka jika kesepakatan urung tercapai.
Merespons ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan konflik baru justru akan memicu kejutan yang lebih besar. Teheran mengisyaratkan perluasan wilayah cakupan perang di kawasan Timur Tengah jika terjadi serangan susulan. ***