PEKANBARU – Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Mego Pinandito, menghadiri langsung proses groundbreaking Gedung Khazanah Arsip Melayu di Pekanbaru pada Senin (8/9/2025). Dalam sambutannya, Mego menyoroti pentingnya kolaborasi semua pihak untuk memastikan pembangunan tahap pertama gedung ini dapat diselesaikan sesuai jadwal hingga akhir Desember 2025. Pembangunan tahap pertama ini menelan anggaran Rp 6,6 miliar untuk membangun depot arsip seluas 600 meter persegi yang terdiri dari ruang penyimpanan dan ruang penunjang.

Mego menjelaskan bahwa gedung yang dirancang sesuai standar depot arsip dengan desain mengacu pada kearifan lokal Riau ini akan menjadi pusat penyimpanan arsip-arsip budaya Melayu yang tersebar di berbagai instansi. Tidak hanya arsip dari ANRI dan Dispersip Provinsi, tetapi juga akan mengumpulkan arsip-arsip penting yang masih disimpan keluarga kesultanan dan masyarakat agar lebih terjamin keawetannya.

"Pembangunan ini tidak mungkin hanya kami sendiri. Oleh karena itu kami sangat berharap dukungan dan bantuan sehingga proses pembangunan yang dimulai hari ini dapat sesuai perencanaan, baik dari sisi kualitas bangunan maupun jadwal," tegas Mego Pinandito.

Kepala ANRI juga mengungkapkan rencana pembangunan gedung kedua pada tahun 2026 yang akan berfungsi sebagai museum dan pusat studi budaya Melayu dengan anggaran sekitar Rp 60 miliar. Gedung ini nantinya akan membuka akses bagi masyarakat untuk mempelajari khazanah arsip Melayu secara luas. Mego menegaskan visi besar pusat arsip ini tidak hanya untuk Riau, tetapi untuk seluruh Indonesia bahkan internasional.

Proyek strategis nasional ini merupakan wujud implementasi Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan yang mengamanatkan perlindungan terhadap khazanah arsip nusantara. Keberadaan gedung ini diharapkan dapat mencegah hilangnya naskah-naskah kuno Melayu yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tak ternilai. ANRI akan menerapkan sistem pengelolaan arsip modern dengan teknologi pengontrol suhu dan kelembaban untuk menjaga kondisi optimal penyimpanan arsip.

"Kami berkomitmen untuk membuat pusat arsip ini menjadi benchmark pengelolaan arsip budaya di Indonesia. Tidak hanya sebagai tempat penyimpanan, tetapi sebagai living museum yang dapat diakses oleh akademisi, peneliti, dan masyarakat umum," tambah Mego.

Untuk mendukung fungsi edukasi, gedung ini akan dilengkapi dengan ruang pameran interaktif, laboratorium konservasi, dan perpustakaan digital. ANRI sedang menjajaki kerja sama dengan berbagai universitas dalam dan luar negeri untuk pengembangan program studi budaya Melayu. Rencananya, pusat arsip ini akan terhubung dengan jaringan museum nasional dan internasional untuk pertukaran pengetahuan dan pameran keliling.

Mego juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Riau yang telah menghibahkan tanah seluas 8.125 meter persegi dan mendukung penuh proyek ini sejak awal. Kerja sama dengan pemerintah daerah akan terus diperkuat untuk memastikan keberlanjutan operasional gedung setelah pembangunan selesai.

"Kami mengajak semua pemangku kepentingan, termasuk swasta dan komunitas budaya, untuk bersama-sama menjadikan pusat arsip ini sebagai kebanggaan bangsa Indonesia. Mari kita wariskan khazanah budaya Melayu yang lengkap kepada generasi mendatang," imbau Mego menutup sambutannya.

Dengan adanya pusat arsip ini, diharapkan dapat menjadi katalisator untuk revitalisasi budaya Melayu di Sumatra dan sekitarnya. Keberadaannya akan memperkuat identitas budaya Melayu sebagai bagian tak terpisahkan dari diversitas budaya nusantara yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. ***