
PEKANBARU - Selama 2016 ini, Polresta Pekanbaru, Riau berhasil mengungkap beberapa kasus kejahatan jalanan berupa jambret, pecah kaca hingga pembegalan yang turut melibatkan remaja dan anak di bawah umur. Bahkan ada pula yang turut serta dalam jaringan besar peredaran narkoba.
Tidak seperti pelaku kejahatan lainnya, sebagian dari remaja ini mengaku terlibat kejahatan lantaran ingin menunjukkan diri alias 'pamer' kepada kelompoknya, bukan karena ingin mencari uang semata. Hasil kejahatan itu digunakan untuk membeli narkoba dan hal lainnya.
Terkait ini, pengamat Kriminologi Riau sekaligus ketua jurusan Kriminologi UIR, Kasmanto Rinaldi, SH, M. Si angkat bicara. Dia mengatakan bahwa dalam kajian kriminologi, terbentuknya perilaku jahat seseorang didapati melalui proses belajar menjadi jahat.
1. Interaksi. Interaksi dikatakan sebagai salahsatu faktor pemicunya. Kasmanto mengatakan, perilaku jahat remaja bukan semata-mata diwariskan secara genetika melalui kedua orangtua, dalam artian, seseorang berperilaku jahat bisa didapat ketika dia berinteraksi dengan pihak lain.
"Interaksi demi interaksi itulah lambat laun menjadikan mereka (remaja) memiliki hubungan emosional yang erat dengan komunitasnya," jawab Kasmanto saat berbincang dengan GoRiau.com, Kamis (7/4/2016) sore kemarin.
2. Keintiman dan loyalitas terhadap komunitas. Itu juga jadi salahsatu penyebabnya. Dengan jalinan keakraban dengan komunitas yang mereka bentuk lambat laun memunculkan keintiman. Masing-masing mereka lalu memberi pengaruh (dalam konteks pengaruh negatif, red).
"Keterpengaruhan seseorang dari komunitasnya itu lah yang menyebabkan mereka merasa nyaman untuk melakukan berbagai pelanggaran, termasuk sebagai pelaku jambret, begal hingga kurir narkoba, seperti beberapa ungkap kasus kepolisian belakangan ini," urainya.
Dua hal ini, lanjutnya, adalah faktor yang saling berkaitan. Dalam konteks anak sebagai pelaku kejahatan, biasanya sangat bergantung dengan interaksi dia dengan pihak lain, terutama dengan teman sepergaulannya. "Semua itu didapat dari pergaulan di lingkungan," beber Kasmanto.
3. Perhatian dan sinergi. Kasmanto menyebutkan, remaja dan anak di bawah umur sering menjadikan lingkungan sekitar sebagai 'pelarian' lantaran minimnya perhatian keluarga. Ini semakin memuncak saat sesama mereka berkumpul.
"Yang menjadi pertanyaan adalah, dimana orangtua sang anak, dimana sanak familinya, dimana mayarakat, dimana pemerintah daerah dan dimana negara. Pertanyaan ini yang mesti kita jawab bersama ketika seorang bocah melakukan perbuatan jahat," simpulnya.
"Ada hal yang keluar dalam tatanan keluarga dan masyarakat kita saat ini yang memerlukan kesinergian kita dalam membentuk dan membangun kembali karakter anak yang kelak bisa dijadikan estafet pembangunan bangsa ini ke depannya," pungkasnya. ***