SELATPANJANG - Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Drs. H. Said Hasyim, mengungkapkan bahwa dengan kondisi geografis Kepulauan Meranti yang sangat strategis juga memberikan dampak negatif bagi daerah terutama sangat berpotensi menjadi tempat masuknya barang haram Narkoba.

Salah satu penyebab maraknya peredaran Narkoba di Kepulauan Meranti karena banyaknya pelabuhan tikus yang tak terawasi didukung oleh tingginya angka pengangguran dan kemiskinan yang mencapai angka 27 persen.

"Kemiskinan sangat mempengaruhi maraknya peredaran Narkoba di Meranti selain itu juga karena minimnya lapangan kerja," kata Said Hasyim, saat mendampingi Wakil Gubernur Riau (Wagubri) Edy Afrizal Natar Nasution (purn) melakukan kunjungan kerja ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Selatpanjang, pada Selasa (3/13/2019).

Data dari Lapas kelas II Selatpanjang, saat ini Lapas disisi sebanyak 291 narapidana maupun tahanan yang seharusnya diisi 83 orang. Artinya terjadi over kapasitas 350,6 persen.

Jumlah tersebut terdiri dari 202 orang terjerat kasus narkoba, 43 orang kasus perlindungan anak dan 19 orang terjerat kasus pencurian.

Untuk mengatasi Lapas yang over kapasitas, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti telah menghibahkan 4,2 Hektar lahan untuk pembangunan Lapas yang terletak di Desa Gogok. Direncanakan Lapas itu akan dibangun pada 2021 mendatang.***