SELATPANJANG, SELATPANJANG - Kemarau bekepanjangan yang melanda Kepulauan Meranti, Riau, ternyata sangat berpengaruh pada produksi sagu. Para pekerja di bangsal sagu terpaksa mengurangi bahkan menghentikan produksi karena sulitnya memenuhi kebutuhan air bersih
Sebagaimana disampaikan Iwin Hs (27), salah seorang pemilik kebun sekaligus bangsal (rumah produksi, red) sagu di wilayah Kabung, Sungai Suir, Tebingtinggi.
Iwin mengatakan, air sangat menentukan dalam proses memproduksi sagu. Karena air digunakan untuk mencuci sekaligus memisahkan ampas sagu dengan sagu basah yang siap produksi.
"Semua bangsal sagu menggunakan air untuk produksi. Kalau musim kemarau seperti sekarang, mereka biasanya mengurangi jumlah produksi atau berhenti sama sekali," terangnya.
Ia sendiri sudah hampir satu bulan menghentikan operasional bangsal sagu, akibat mengeringnya sumber air di wilayah produksinya. Biasanya dalam satu minggu, Iwin bisa memperoduksi sagu basah hingga 10 ton.
"Memang awalnya kita mengurangi produksi karena terbatasnya air, tapi sekarang sudah berhenti total selama sebulan ini," ungkap Iwin.
Untuk memproduksi sagu, selama ini ia memanfaatkan kolam dan kanal yang sengaja digali di sekitar bangsal sagu miliknya.
"Sekarang sudah kering semua, bangsal tutup pekerja pulang. Mungkin pengusaha besar masih beroperasi, tapi pasti produksinya berkurang dari biasanya," tukas lelaki yang memiliki lebih kurang 4,5 hektar kebun sagu itu.(zal)