
BENGKALIS, GORIAU.COM - Kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, bukan pertama kalinya. Sudah banyak kasus yang terjadi namun hingga saat ini, banyak yang tidak mau melaporkan hal itu. Menurut Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, itu merupakan sebuah aib dalam keluarga.
"Kasus pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak di Riau, seperti fenomena gunung es. Jika tidak diatasi segera akan menjadi bagi lingkungan dan tumbuh kembang anak," kata Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Seto Mulyadi saat dikonfirmasi GoRiau.com, Jumat (21/8/2015) pagi.
Penyebab anak di bawah umur menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual, karena anak-anak terlalu lugu untuk bisa dibohongi.
Dicontohkan Kak Seto, orang tua yang sedang emosi tidak bisa meluapkan amarahnya, lantas anak menjadi sasarannya. Seorang guru yang tak mampu mendidik atau mengajari anak, lalu meluapkan emosinya dengan memukul. Seseorang yang memiliki dorongan nafsu seksual tak bisa melampiaskannya, lalu dilampiaskan terhadap anak di bawah umur.
"Ya, karena anak-anak masih lugu. Untuk itu anak-anak perlu diberikan perlindungan. Dimulai dari keluarga," tegasnya.
Kasus pelecehan seksual dan kekerasan terhadap di Indonesia khususnya di Provinsi Riau, banyak yang tidak terungkap. Untuk itu dirinya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menekan angka kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak.
"Seharusnya dengan semakin banyaknya kasus ini, mendorong masyarakat untuk lebih peduli," tutup Seto Mulyadi menjelaskan. (ric)